Tentang Penulis - Situs Inggris - Berlangganan - E-mail
Jika Anda tidak dapat melihat animasi di atas atau hendak melewatinya, silahkan tekan di sini Situs ini didasarkan pada karya-karya HARUN YAHYA |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Sabtu, 02 Agustus 2014
ALLAH MENCIPTAKAN DUNIA KITA SEBAGAI CITRA-CITRA DI DALAM OTAK
ALLAH MENCIPTAKAN DUNIA KITA SEBAGAI CITRA-CITRA DI DALAM OTAK
Seluruh
hal yang kita lihat sebagai materi pada kenyataannya tidak lebih dari
foton-foton. Foton adalah partikel cahaya dengan panjang gelombang yang
bervariasi. Gelombang-gelombang ini merambat ke arah kita dan berubah
menjadi sinyal-sinyal listrik ketika mereka sampai pada retina di mata
kita. Sinyal-sinyal listrik tersebut bergerak di sepanjang jalan yang
telah ditetapkan dan pada akhirnya mencapai pusat penglihatan di dalam
otak. Dan disana gelombang-gelombang tersebut memberikan asumsi dengan
cara yang sangat luar biasa: Kita yakin bahwa apa yang kita lihat
benar-benar berada disana, dan benar-benar ada sebuah televisi atau
bangunan pencakar langit di hadapan kita.
Tak
peduli betapa meyakinkannya sebuah citra dari bangunan pencakar langit,
apa yang Anda anggap sebagai materi pada kenyataannya tidak lebih dari
sinyal-sinyal listrik. Dan citra tersebut terbentuk di dalam otak Anda,
bukan di depan Anda. Citra sesungguhnya dari bangunan pencakar langit
yang ada di luar tidak akan pernah mencapai Anda. Segala hal yang Anda
persepsikan, sebagai sinyal-sinyal listrik, adalah gelombang-gelombang
cahaya yang terpancar dari bangunan tersebut. Dengan kata lain, apa yang
Anda lihat adalah tidak lebih dari gelombang-gelombang cahaya dan
sinyal-sinyal listrik. Dengan demikian, sepanjang hidup Anda hanya
melihat sebuah citra ilusi dari bangunan pencakar langit, dan bukanlah
bangunan pencakar langit yang sesungguhnya. Meskipun sebuah ilusi,
bagaimanapun juga, citra tersebut tetaplah sangat jelas dan tidak ada
cacat dalam penampakannya. Sangatlah sulit untuk menyadari kenyataan
bahwasanya citra tersebut hanya terdiri dari sinyal-sinyal listrik.
Citra tersebut diciptakan dengan sangat sempurna di dalam otak sehingga
hampir mustahil untuk dapat membedakannya dengan bangunan sesungguhnya.
Ini adalah kesempurnaan karya seni dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Keajaiban
diciptakan setiap hari, setiap saat di otak manusia. Walaupun hanya
sinyal-sinyal listrik yang mencapai otak, dan walaupun bagian dalam otak
adalah gelap gulita dan walaupun daerah tersebut hanya berukuran sekian
centimeter persegi, semua gunung-gunung, laut-laut, lapangan-lapangan,
langit-langit, sampah-sampah yang tak pernah habis, rumah-rumah,
televisi-televisi, orang-orang, pohon-pohon dan dengan kata lain semua
hal yang kita lihat berada di dalam otak. Semua hal tersebut berwarna.
Tetapi tidak ada warna di dalam otak. Semua hal disana bercahaya dan
terang benderang, tetapi sesungguhnya tidak ada cahaya di dalam otak,
ataupun bahkan di luar otak. Semua hal disana sangatlah berisik dan
memiliki banyak suara, tetapi bagian dalam otak sama sekali hening. Ada
perbedaan kedalaman disana; bintang-bintang tampak sangat jauh,
sedangkan sebuah pensil yang kita pegang tampak dekat. Tetapi
kenyataannya semua hal memiliki bidang yang sama di otak kita dan dengan
jarak yang sama. Matahari tampak ribuan kilometer di kejauhan sana.
Tetapi sesungguhnya berada tepat di sebelah kita, di dalam otak-otak
kita. Alasan mengapa matahari ada di dalam otak kita adalah karena citra
tersebut semata-mata sebuah sinyal-sinyal listrik. Sebuah tubuh yang
kita tahu berada sejauh ribuan kilometer sesungguhnya tercipta di sebuah
ruang yang hanya berukuran sekian centimeter persegi.
Dengan
demikian, dunia yang kita lihat bukanlah materi yang sesungguhnya. Kita
tidak akan pernah bersentuhan langsung dengan materi sesungguhnya yang
ada di luar sana. Dunia kita terbatas dengan apa yang ditampilkan pada
layar di otak-otak kita. Jauh dari itu, kita tidak dapat menjamin apakah
entitas tersebut ada atau tidak, sebagaimana kita tidak dapat menjamin
apakah dunia yang diciptakan untuk kita adalah sama dengan dunia
sesungguhnya di luar sana.
Dunia
yang kita lihat adalah dunia yang Allah transmisikan ke ruh kita. Tidak
ada materi di dunia tersebut; tidak ada kekerasan, kelembutan, bau
ataupun warna. Hanya ada sinyal-sinyal listrik. Allah membuat
sinyal-sinyal listrik sebagai penyebab dari dunia yang bercahaya dan
berwarna yang Dia tunjukkan kepada ruh kita. Dan adalah ruh, yang Dia
ciptakan untuk setiap manusia, yang mempersepsikan dan menerjemahkan
citra-citra ini, gembira, bersedih, ragu-ragu, merasa bahagia dan rindu,
mengingat, mencintai dan merasakan kegembiraan di dunia tersebut.
2011-01-19 11:17:39
SADARLAH BAHWA ALLAH-LAH YANG MENGATUR SEGALA SESUATU DALAM SETIAP DETAIL NYA
SADARLAH BAHWA ALLAH-LAH YANG MENGATUR SEGALA SESUATU DALAM SETIAP DETAIL NYA
Kebanyakan
orangsenang ketika hal-hal terjadi sesuai dengan keinginan mereka,
tetapi mudah kesal ketika hal-hal kecil tidak sesuai dengan keinginan
mereka.Tetapi, seseorang memercayai Allah (khususnya muslim) tidak boleh
memiliki sifat seperti itu. Dalam Al-Qur'an, Allah mengungkapkan kabar
baik bahwa Ia telah menentukan setiap peristiwa yang terjadi hanyalah
demi kebaikan hamba-Nya yang benar, dan tidak ada yang harus menjadi
kesedihan atau kesulitan bagi mereka.
Seseorang
yang mengetahui kebenaran ini didalam hatinya, dapat menyenangi hal
apapun yang ia jalani dan berkah yang terdapat di balik hal itu.
Banyak
orang tidak memikirkan bagaimana mereka tercipta ataupun mengapa mereka
ada. Meskipun hati nurani mereka membimbing mereka agar sadar tentang
keajaiban dan sempurnanya dunia yang dimiliki oleh Sang Pencipta, banyak
sekali cinta yang mereka rasakan untuk kehidupan dunia ini, atau
keengganan mereka untuk menghadapi kebenaran, membawa mereka untuk
menyangkal realitas mengenai keberadaan-Nya. Mereka menolak bukti bahwa
setiap kejadian dari hidup mereka telah ditentukan sesuai dengan rencana
dan tujuan, tetapi perilaku mereka menunjukkan aksi yang salah, yakni
menganggap hal-hal yang terjadi hanyalah kebetulan ataupun
keberuntungan. Bagaimanapun, itu hanyalah pandangan sekilas dari manusia
yang menghalangi mereka untuk melihat kebaikan/sisi positif dari suatu
kejadian dan mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.
Adajuga
mereka, yang sadar akan keberadaan Tuhan, dan memahami bahwa Dialah
yang telah menciptakan seluruh alam semesta. Mereka mengakui bukti bahwa
Allah-lah yang menurunkan hujan atau mengatur terbit dan terbenamnya
matahari. Mereka mengakui bahwa selain karena kuasa Allah, tidak ada
satupun kejadian yang dapat terjadi. Namun, ketika terjadi sedikit
insiden kecil dalam hidup mereka, mereka tidak dapat berpikir mengenai
kekuasaan Allah. Namun demikian, Dialah yang mentakdirkan seorang maling
untuk mencuri ke rumah seseorang saat malam, menjadikan suatu halangan
yang membuat seseorang jatuh, sebidang tanah yang subur untuk
menghasilkan tanaman menjadi gersang, perdagangan agar menguntungkan,
ataupun panci masakan yang terlupakan di kompor. Setiap kejadian
termasuk dalam hikmah Allah yang tak terbatas dan sesuai dengan
rencana-Nya yang luhur. Setetes noda lumpur pada celana kita, sebuah
tusukan pada ban, jerawat muncul di wajah seseorang, penyakit, atau hal
yang tidak diinginkan, semuanya dimasukkan kedalam kehidupan seseorang
dengan rencana tertentu.
Tidak
ada seseorang yang mengalami—mulai dari ia membuka matanya—dapat
berdiri sendiri tanpa bantuan dan terpisah dari Allah. Semua kehidupan,
secara keseluruhan diciptakan oleh Allah, satu-satunya yang memegang
kendali atas alam semesta. Ciptaan Allah adalah sempurna, tanpa cacat,
dan penuh dengan tujuan. Ini adalah bagian dari takdir yang diciptakan
oleh Allah, seseorang tidak boleh mendiskriminasi suatu kejadian dengan
menetapkan suatu kejadian buruk dan jahat. Apa yang menjadi kewajiban
pada seseorang adalah untuk mengenali dan menghargai kesempurnaan dari
semua kejadian, dan untuk percaya dengan semua kepastian yang terletak
didalamnya, terlebih dari itu kita juga harus sadar mengenai kebijakan
Allah yang tak terbatas, semua dirancang untuk mengarah kepada tujuan
yang luar biasa. Memang, bagi mereka yang percaya dan mengenali kebaikan
dalam segala hal yang menimpa mereka, baik di dunia ini dan dunia luar
merupakan bagian dari suatu kebaikan yang kekal.
Dalam
Al-Qur’an, Allah menarik perhatian kita kepada fakta tersebut, hampir
di setiap halaman. Inilah sebabnya mengapa kegagalan untuk mengingat
bahwa segala sesuatu menurut takdir tertentu merupakan kegagalan bagi
seseorang yanb beriman. Takdir yang sudah ditentukan oleh Allah itu
unik, dan dialami oleh seseorang persis seperti yang telah Allah
tetapkan. Orang awam bisa merasakan keyakinan pada takdir hanya
sebagaicara untuk “menghibur saat terjadi bencana.”
Takdirditahbiskan
oleh Allah adalah unik, dan dialami oleh seseorang dalam persis cara
Allah telah ditakdirkan. Orang biasa merasakan keyakinan pada takdir
hanya sebagai cara untuk "menghibur saat terjadi bencana". Seorang
mukmin, di sisi lain, mencapai pemahaman yang benar terhadap takdirnya,
sepenuhnya menangkap bahwa itu adalah program yang sempurna satu-satunya
yang dirancang khusus untuknya.
Takdir
adalah agenda sempurna yang seluruhnya dikembangkan untuk seseorang
untuk masuk surga. Hal ini penuh dengan berkat dan untuk tujuan ilahi.
Setiap kesulitan yang ditemui seseorang di dalam dunia ini akan menjadi
sumber kebahagiaan tak terbatas, suka cita, dan damai di akhirat. Ayat “Karena seseungguhnya sesudah kesulitan datang kemudahan.” (Q.S.
Al-Insyirah : 5) menarik perhatian kita pada fakta ini, dalam takdir
seseorang, kesabaran, dan keberanian dari seseorang yang beriman adalah
ditakdirkan bersama dengan imbalannya masing-masing di akhirat.
Ini
mungkin terjadi selama hari itu, bahwa orang beriman akan menjadi
jengkel atau khawatir tentang hal-hal tertentu yang telah terjadi.
Alasan utama dari rasa jengkel tersebut adalah kegagalannya untuk
mengingat bahwa kegagalan dalam hidupnya adalah bagian dari takdir yang
khusus diciptakan oleh Allah. Padahal, ia akan dihibur dan tenang ketika
ia diingatkan tentag tujuan penciptaan Allah.
Inilah
sebabnya mengapaorang beriman harus belajar untuk terus diingat bahwa
semuanya sudah ditakdirkan, serta mengingatkan orang lain mengenai fakta
ini. Dia harus menunjukkan kesabaran dalam menghadapi kejadian tersebut
bahwa Allah telah ditakdirkan untuknya, di relung tanpa batas waktu,
menaruh kepercayaan kepada-Nya, dan berusaha untuk mengenali
alasan-alasan di balik itu. Mereka yang berusaha memahami alasan ini
akan—dengan izin Allah—sukses. Meskipun mereka mungkin tidak selalu bisa
mendeteksi tujuan mereka yang sebenarnya, mereka harus tetap diyakinkan
bahwa, ketika sesuatu terjadi, tentu saja untuk beberapa yang baik dan
untuk tujuan.
2011-03-28 16:34:57
Kekuatan Do’a
Kekuatan Do’a
Berdo’a
merupakan hubungan yang penting dengan Allah Yang Maha Besar, hal
diperlukan guna menunjukkan kelemahan kita di hadapan Allah. Tuhan kita
menunjukkan bahwa do’a merupakan tindakan yang penting atas bentuk
penyembahan kepada-Nya berdasarkan ayat “Katakanlah: Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya, padahal kamu sungguh mendustakan-Nya “(Surat al-Furqan, 77).
Sebenarnya,
kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan Allah ada pada setiap karakter
manusia, merupakan syarat penciptaan. Akan tetapi, di lain hal berdo’a
merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan bagi orang beriman,
namun untuk beberapa orang hal itu merupakan bentuk tindakan penyembahan
yang hanya perlu diingat di waktu mereka berhadapan dengan kesulitan
atau situasi yang membahayakan kehidupan mereka. Hal ini merupakan
kesalahan besar karena yang paling baik adalah memohon kepada Allah Yang
Maha Besar pada kedua kondisi tersebut, baik dalam kesulitan dan
kemudahan untuk memohon ampunan-Nya.
Bersungguh-sungguh dalam Berdo’a.
Allah
telah mempermudah hambanya untuk menemukan apapun yang ia lihat sebagai
hal yang baik dan indah. Akan tetapi, fokus dalam berdo’a yang
dilakukannya adalah sepenting do’a itu sendiri. Berdo’a dengan kesabaran
seperti suatu kebutuhan dan harapan untuk berdoa, ketidaknyamanan akan
hal tersebut dan yang paling penting dalam berdoa; bahwa kedekatan
kepada Allah semakin meningkat. Semakin bersungguh-sungguh dalam berdoa
membuat hamba yang berdo’a tersebut memiliki karakter dan keinginan yang
semakin kuat. Orang beriman yang menunjukkan kesungguhan dalam berdoa
mendapatkan banyak keuntungan seperti keyakinan yang semakin dalam, ini
jauh lebih bernilai dibandingkan dengan apa yang ia inginkan/ minta. Hal
ini tertulis dalam Al-Qur’an bahwa diperlukan kesungguhan dalam do’a
seperti:
“
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang –orang yang khusyu “ (Surat Al-Baqarah:45).
Rasulullah
(SAW) telah menyatakan betapa Ia membutuhkan Allah terkadang dengan
terus berdo’a bertahun-tahun dan Tuhan kita, Allah Yang Maha Pengasih,
telah memberikan apa yang ia inginkan pada di saat yang terbaik. Fakta
bahwa Allah menerima semua do’a, baik itu yang terang-terangan maupun
yang tersembunyi, merupakan bentuk ke-agungan-Nya dan Kerahiman-Nya.
Allah tidak pernah meninggalkan sebersit apapun pemikiran yang terlintas
di kepala hamba-Nya tanpa kembali lagi kepadanya, Akan tetapi “
menerima do’a” tidak berarti sesuatu terjadi seperti yang diminta karena
terkadang seseorang mungkin saja meminta sesuatu yang membahayakan
dirinya sendiri. Allah SWT mengungkapkan hal tersebut sebagai berikut:
“Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”
(Surat Al-Isra:11).
(Surat Al-Isra:11).
Allah
mengetahui yang terbaik dan apa yang terburuk untuk orang tersebut
karena Ia lah yang memiliki segalanya. Atas segala ciptaan-Nya, ada
banyak sekali hal-hal yang tersembunyi dalam cara Ia menerima do’a.
Sebagai contoh, Nabi Yakub (as) bergabung kembali dengan anaknya nabi
Yusuf (as) setelah menunggu dalam waktu tahunan yang panjang, Nabi Yusuf
mendapatkan kekuatan dan kekuasaan setelah dipenjara selama beberapa
waktu. Nabi Ayub (as), diselamatkan dari syetan, semua ini terjadi
setelah mendapat kesabaran dan do’a yang berkelanjutan. Allah Yang Maha
Besar, telah menerima do’a dari kepatuhan yang tulus dari waktu
terbaik-Nya. Allah SWT, telah menerima do’a hamba yang tulus untuk
waktu terbaiknya, dan telah membuat mereka matang, mendidik,
meningkatkan kesetiaan dan ketulusan dan mengubah mereka menjadi hamba
yang bernilai dan memiliki derajat yang tinggi di surga.
Bagaimana Allah menerima do’a
Ketika
orang beriman berdoa, ia tahu bahwa Allah mendengarnya dan akan
selalu menerima do’anya kapan pun. Ini karena ia menyadari bahwa sesuatu
tidak terjadi secara kebetulan, tapi berdasarkan atas ketentuan yang
ditentukan oleh Allah dan sebagaimana yang diinginkan-Nya. Untuk itu, ia
tak memiliki keraguan bahwa ia tidak akan mendapatkan kembali do’anya.
Berdo’a dengan jiwa yang tulus menghasilkan kebaikan. Dalam satu ayat,
hal itu diperlihatkan bahwa Tuhan kami akan selalu menerima do’a sebagai
manifestasi dari nama “Al-Mujib” (Ia yang menerima permintaan dari
mereka yang meminta pada-Nya).
“
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku. Maka
(jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan
orang yangberdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran..” (Surat al-Baqarah, 186).
Alasan
bahwa sesuatu yang diminta dalam do’a ditunda, atau diterima dengan
cara yang berbeda, dapat juga merupakan ujian Tuhan kepada hamba-Nya.
Allah memberikan berkah-Nya setelah beberapa periode untuk kemudian
diuji kesabaran hamba-Nya dan untuk membuat mereka matang dengan alasan
tertentu.
Berdasarkan
alasan serupa, ia tak dapat diduga bahwa setiap do’a terwujud seperti
saat ia diminta dan sesegera mungkin. Seperti apa yang diutarakan oleh
cendikiawan Islam Bediuzzaman, Allah mungkin memberikan sedikit dari
sesuatu yang diminta dalam do’a atau sesuatu yang lebih dari yang
dihadiahkan karena alasan tersebut yang disebut di atas. Ia mungkin
tidak mengabulkannya sama sekali. Akan tetapi, pada setiap kondisi,
Allah menerima do’a dari mereka yang berdo’a kepada-Nya.
Berdo’a
merupakan bentuk kepatuhan kepada Allah dan semua orang membutuhkan
do’a. Hal yang merupakan contoh paling rasional dalam hal ini adalah
bahwa semua Nabi yang berdo’a kepada Allah dengan menyerahkan diri
kepada-Nya dalam segala hal yang terdapat di Al-Qur;an. Dalam do’a nabi
Muhammda SAW, dan para nabi-nabi, kita melihat penyerahan diri mereka
kepada Allah, fakta bahwa mereka melihat Allah, dan sebagai teman sejati
mereka serta pihak yang membantu mereka dan bahwa mereka dan berdo’a
memuja Tuhan kita dengan nama-Nya yang indah.
Do’a dari Nabi Muhammad (SAW)
Dalam
do’a dari Nabi Muhammad SAW, hal yang terindah dari mengutip Allah
dengan nama-Nya disebutkan. Salah satu do’a dari nabi kita (SAW)
disebutkan sebagai berikut:
Katakanlah
“ Wahai Tuhan Yang Maha mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan
kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang
yang Engkau kehendaki. Egkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan
Engkau hinakan otang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala
kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surah Al ‘Imran, 26).
Dalam narasinya, terlihat bahwa nabi Muhammd (SAW) berdo’a kepada Tuhan untuk diberikan moral yang baik dan perilaku yang baik.
O
Allah! perteballah kebaikan dan etika! Wahai Yang Maha Agung!
Pindahkanlah moral yang buruk (Tirmidhi, Imam Ahmad dan Haqim; Hujjat
al-Islam Imam Gadhali, Ihyau Ulum id-din, volume 2, Terjemahan : Dr.
Sitki Gulle, Huzur Publishing, Istanbul 1998, p.789)
Do’a dari nabi Nuh (as),
Kesabaran
dari nabi Nuh (as) yang menyerukan umatnya kepada agama yang baik
selama beberapa tahun dengan kesungguhan, dipuji dalam Al-Qur’an. Nabi
Nuh (as) berjuang melawan umatnya yang bertindak dengan memusuhinya dan
orang-orang beriman yang bersamanya. Faktanya adalah nabi Nuh kembali
kepada Allah WT dalam berbagai situasi, dan berdo’a dengan mengharapkan
bantuan-Nya secara tulus merupakan contoh yang baik bagi orang beriman.
Dalam satu ayat, terlihat bahwa Allah mengetahui kondisi dari Nabi nuh
(as), bahwa ia berdo’a sebagai berikut:
“Maka ia Mengadu kepada Tuhannya: “bahwasannya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)”
(Q.S Al-Qamar : 10).
(Q.S Al-Qamar : 10).
Allah
menerima do’a nabi Nuh (as) dan memerintahkannya agar bersiap-siap
menghadapi banjir, yang akan terjadi di masa depan. Nabi Nuh (as) mulai
membangun kapal yang sangat besar atas perintah Allah, meskipun tidak
ada laut ataupun danau di sekitarnya. Dalam masa pembangunan kapal
tersebut, ia secara terus-menerus menjadi pihak yang dicemooh oleh
umatnya. Pada saat tiba waktunya, janji Allah SWT terwujud dan banjir
tersebut terjadi.
Do’a dari nabi Yunus (as):
Dalam
Al-Qur’an, disebutkan bahwa Nabi yang mulia ini memisahkan diri dari
umatnya, karena mereka tak merespon seruannya (Surat As-Safaat:
139-142). Seperti yang tertulis pada ayat berikut ini, terdapat gambar
di kapal tersebut di mana nabi Yunus (as) berkelana dan akibat dari
gambar tersebut nabi Yunus (as) dilemparkan ke laut. Puncak dari
kejadian tersebut, nabi Yunus (as) berserah diri kepada Allah dan
berdo’a kepada-Nya. Allah mencatat peristiwa ini dalam Al-Qur’an :
Dan
ingatlah kisah Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah,
lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya
(menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap:
“Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak di sembah ) selain Engkau. Maha Suci
Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”. Maka
Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari pada
kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. ”(Surat al-Anbiya’,ayat: 87–88).
Seperti
yang tertulis pada ayat Nabi Yunus (as) bersaksi/ mengaku kondisinya
secara tulus dalam do’anya. Ia berdo’a kepada Allah dan menantikan
bantuan-Nya. Tuhan kita, yang Maha Pengampun, menerima penebusan dan
menyelamatkannya dari perut ikan dengan menerima do’anya.
Do’a Nabi Yakub (as)
Dalam
Al-Qur’an, kesabaran nabi Yakub (as) disebutkan sebagai salah satu
contoh bagi orang beriman. Nabi Yakub (as) yang menerima wahu dari Allah
dan merupakan hamba terpilih (Q.S An-Nisa :163), merasakan permasalahan
yang serius dan melewati masa sulit. Akan tetapi, meskipun segala
penderitaan yang dialaminya, Ia selalu menjadikan hal tersebut sebagai
contoh bagi orang beriman dengan kesabaran dan penyerahan diri kepada
Allah (Q.S Sad, 44). Do’a yang tulus dari nabi suci kita tersebut
dinyatakan dalam salah satu ayatnya sebagai berikut:
dan
(ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru kepada Tuhannya: (Ya Tuhanku),
sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang
Maha Penyayang di antara semua penyayang ”(Surat al-Anbiya’, 83)
Hal
ini tercatat dalam Al-Qur’an bahwa Allah Yang Maha Besar menerima semua
do’a dari Nabi Yakub (as) sebagai salah satu hambanya yang tulus”
Maka
Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang
ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat
gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan utuk
menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Surat al-Anbiya’, 84)
Do’a,
merupakan alat terpenting dalam mencapai ke agungan Allah, Yang Maha
Mengetahui dan Maha Mendengar, yang lebih dekat dari urat nadi manusia (
Surah Qaf, ayat 16), merupakan bentuk penghambaan bagi orang beriman di
segala kondisi dan kesempatan. Akan tetapi, setiap orang beriman
melakukan ini, seperti yang ditulis dalam ayat : Dan kamu tidak mampu kecuali bila dikehendaki Allah…”(Surat
al-Insan, 30). Mereka berperilaku dalam kesadaran bahwa faktanya segala
sesuatu selalu di bawah kontrol Tuhan kita dan semuanya terwujud karena
kehendak-Nya.
Akan selalu ada jawaban dari do’a yang tulus di dunia dan di akhrat.
Do’a membimbing seseorang atas apa yang akan terjadi dalam nasibnya” Allah
adalah satu-satunya yang menentukan nasib dan menciptakan do’a. Akan
tetapi berkah yang datang dari do’a mengandung kemakmuran di dunia ini
dan sekembalinya ke akhirat. Seluruh kehidupan sesorang merupakan hasil
dari do’a yang diucapkan dari do’a yang sebelumnya diminta, apakah ia
merasa sadar atau tidak. Do’a aktif berupa tindakan dan usaha yang
diajukan dari doa dan kehendak Allah. Ketika usaha tersebut ridha Allah
hal tersebut masih menjadi cara bagi tiap pribadi untuk meraih
harapannya, sesuai dengan ridha Allah.
Manusia
yang tidak beriman namun membawa do’a aktif mereka dengan ambisi yang
besar, sebagai contoh, mereka yang bekerja dan mendapatkan banyak
keuntungan, menjadi kaya atau menjadi pakar tentang sesuatu hal dan
menjadi terkenal, telah mencapai derajat tersebut melalui perjuangan
aktif mereka dengan berpedoman pada akibat, dan lagi lagi kehendak
Allah. Akan tetapi, do’a yang aktif yang tidak digunakan untuk ridha
Allah tak akan memberikan keuntungan terhadap orang tersebut di akhirat
meskipun orang tersebut mencapai tujuan tujuannya dari waktu ke waktu
di dunia ini.
Dengan ayat yang tertulis dalam Al-Qur’an:
”Hai Nabi! cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang orang mu’min yang mengikutimu, (Q.S Al-Anfaal, 64)
Allah
merupakan yang paling sempurna, Pemilik kekal Kekuasaan. Semua kekuatan
di dunia ini ada di tangan_nya. Jadi permohonan bantuan dan permohonan
maaf harusnya ditujukan hanya kepada Allah, di mana semua orang butuh
dan Allah tidak memerlukan sesuatu pun. Dalam Al-Qur’an disebutkan
bahwasannya salah apabila berdo’a selain kepada Allah dan Allah
merupakan satu-satunya pemilik do’a :
Maka
jangalah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah,
yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di’azab (Surat ash-Syu‘araa’, 213)
Kesimpulan
Do’a
merupakan contoh dari kemurahan Allah dan kasih sayang-Nya terhadap
hamba-Nya, Orang-orang beriman dapat berdo’a kepada Allah setiap saat
dan di setiap kondisi apapun dan mereka merasa damai karena Allah akan
menerima do’a-do’a mereka di saat yang tepat. Dalam hal ini, mereka
dapat menceritakan rahasia terpendam mereka dan keinginan terdalam
mereka kepada Allah, dan hidup dalam kebaikan, kesejahteraan dan
keindahan yang datang dari pemahaman bahwa Allah-lah satu-satunya teman,
petunjuk dan yang akan membantu mereka.
Kita
dapat melihat bahwa rahasia terbesar dalam Allah mewujudkan do’a dalam
kehidupan para Nabi seperti yang telah dikisahkan dalam beberapa contoh.
Terdapat hubungan dalam berdo’a dan menjalankan perintah Allah. Usaha
nyata yang ditunjukkan untuk ridha Allah, belas kasihan dan surga-Nya
merupakan bentuk pengambaan sepenting seperti berdo’a. Allah
menunjukkan dalam Al-Qur’an mengenai pentingnya usaha tersebut:
“Dan
barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah
itu dengan sungguh-sungguh sedang dia adalah mu’min, maka mereka adalah
orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik” (Surat al-Isra’, 19)
Ulama Imam Rabbani menjelaskan hal ini sebagai berikut :
Menginginkan
sesuatu berarti mencapai hal tersebut, Memang, Allah yang Maha Kuasa
tidak membuat hambanya berdo’a untuk sesuatu yang tidak diterima-Nya.
Hambanya yang beriman tahu bahwa usahanya juga merupakan sebuah do’a
tidak hanya berdoa pada saat kesulitan tetapi pada setiap saat oleh
perasaan keberadaan dan ke-Agungan Allah. Mereka memelihara kedekatan
hubungan dengan Allah Yang Maha Kuasa di setiap saat hidup mereka.
2012-08-06 10:59:43
PENTINGNYA MEMILIKI NIAT UNTUK BERBUAT BAIK SETIAP HARI
PENTINGNYA MEMILIKI NIAT UNTUK BERBUAT BAIK SETIAP HARI
Seorang
yang beriman menjalani seluruh hidupnya berdasarkan Al Qur'an, dan
berusaha menerapkan secara hati-hati dari hari ke hari apa yang telah ia
baca dan pelajari dalam ayat-ayatnya. Dalam segala perbuatannya, sejak
saat dia bangun di pagi hari sampai waktu dia tertidur di malam hari,
dia memiliki niat bahwa dalam berpikir, berbicara dan bertindak itu
harus sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Al-Qur'an
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(Surat Al-An’am: 162)
Sejak
saat seorang muslim memiliki iman, ia telah membuat keputusan untuk
menghabiskan setiap saat dalam hidupnya untuk mendapatkan ridha Allah.
Sejak saat itu, ia menunjukkan semangat rohani dan usaha yang besar baik
dalam segi material maupun spiritual. Namun, karena kecenderungan yang
melekat, seorang Muslim tidak pernah merasa bahwa imannya sudah berada
pada tingkat yang cukup, sehingga selama belum sampai pada napas
terakhirnya, ia selalu memiliki kesempatan untuk meningkatkan
keimanannya di setiap saat dalam hidupnya.
Dengan
demikian, maka setiap hari, setiap jam, setiap saat, dia harus sekali
lagi membuat niat dalam hatinya untuk memperdalam imannya,
memperbaharuinya dan berkomitmen untuk menghabiskan setiap saat dalam
hidupnya dalam mengerjakan amal saleh sehingga mendapatkan ridhlo Allah.
Orang Yang Beriman Harus Memperbaharui Niatnya Setiap Hari
Pada
saat ini, seperti saat kita sedang membaca artikel ini, kitapun dapat
memperbaharui niat kita. Sejak saat ini, kita dapat berniat untuk
menghabiskan waktu kita, menggunakan kesempatan kita, dan mengerahkan
segenap kekuatan spiritual dan fisik kita untuk digunakan pada hal-hal
yang jauh lebih berguna, penuh perhatian dan tulus
Kita
bisa menilai setiap kesempatan dalam melaksanakan segala macam ibadah
dengan penuh semangat. Kita bisa mengamati setiap kesempatan yang dapat
menjadikan kita mendapatkan ridha Allah dan berlomba untuk melakukan
amal saleh.
Kita
bisa mengalami kemajuan dalam rangka mendapatkan ridha Allah jika tidak
memiliki pemikiran seperti "Saya sudah membuat perbuatan yang baik ini,
dan ini sudah cukup untuk hari ini," atau "Dibandingkan dengan orang
lain di sekitar saya, saya sudah melakukan banyak usaha yang lebih
besar, dan dalam hal apapun, saya lebih baik dari mereka",.
Apa
yang dimaksud di sini adalah keadaan yang sangat berbeda dan khas dari
pikiran. Tidak diragukan lagi, seorang Muslim menghabiskan setiap
waktunya sesuai dengan moralitas Al-Qur'an. Namun, sikap seseorang yang
membuat keputusan secara sadar dan tegas mengenai hal ini sangat jauh
berbeda, untuk hati nurani seseorang yang seperti itu, hal ini sangat
sensitif.
Dia
sangat peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Dia lebih
waspada terhadap pekerjaan yang sulit, dibandingkan dengan orang yang
lain. Dia adalah orang yang selalu berbicara dengan kata-kata terbaik.
Dia lebih baik, lebih damai dan lebih positif dibandingkan dengan orang
yang lain.
Dia
adalah orang yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang. Dia lebih
memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan berusaha untuk
memenuhinya, sebelum orang lain melakukannya. Dia selalu berpenampilan
dengan gaya yang damai dan sesuai. Suasana hatinya sangat berbeda dan
positif, dimana orang lain langsung bisa mengetahuinya.
Orang
beriman Berniat untuk Hidup dengan Nilai Moral Yang Diajarkan oleh
Allah dalam Al Qur'an dengan Cara Terbaik selama 24 Jam Sehari.
Apapun
kondisinya, orang beriman tidak akan berkompromi dalam menunjukkan
akhlak yang tinggi. Nilai-nilai mereka tidak berubah, mereka selalu
menyesuaikan dengan apa yang Allah Perintah dan Ridhoi.
Mereka mengambil Muhammad Rasulullah (saw) sebagai suri tauladan mereka yang Allah Puji dalam Al Qur'an dalam kata-kata ini:
Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung (Surat Al-Qalam: 4)
Hanya
ada satu cara untuk selamat dari hancur dalam siksaan kekal api neraka,
yaitu hidup menurut Al-Qur'an dan Sunnah, dimana dengan cara ini, Alloh
Menghadiahkan kepada manusia "suatu kemenangan"
Hidup
dalam Al-Qur’an dan Sunnah lah yang menyelamatkan manusia dari
kebodohan, di mana mereka tenggelam, cara berpikir mereka yang primitif,
lingkungan yang penuh dengan stres, karakter negatif, ketakutan yang
tak berdasar, keyakinan yang sesat, dimana kesemuanya inilah yang
merupakan penyebab dari disiksanya dalam neraka.
Dengan
menerapkan hidup berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, mereka memperoleh
pemahaman dan kebijaksanaan, nilai yang lebih tinggi, lingkungan yang
wajar, penuh dengan ketenangan pikiran, dan yang terpenting adalah hidup
di Surga yang penuh dengan berkah tiada akhir.
Hanya
ada satu cara untuk menghapus semua kecemasan, pertempuran, perang,
permusuhan, kemiskinan, kemelaratan dan kemarahan yang mengisi dunia:
yaitu dengan hidup sesuai dengan ajaran Al Qur'an dan Sunnah Muhammad
(saw). Tidak ada cara lain bagi seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan,
kesejahteraan, keadilan, kasih dan damai yang dia inginkan
Hidup
menurut Al-Qur'an dan Sunnah adalah semacam sebuah tameng terhadap
ketidakadilan, konflik, ketidaksetaraan, iri hati, perang,
ketidakseimbangan, kotoran, ketakutan, kefanatikan, kekejaman,
kekerasan, amoral, dan hal lain seperti itu adalah solusi yang paling
dasar bagi manusia agar mereka dapat hidup dengan nyaman, damai, penuh
kebahagiaan dan keadilan.
Meskipun
demikian, dan karena mereka telah berpaling dari moralitas agama yang
benar demi keuntungan kecil, keuntungan duniawi dan kelemahan manusia
itu sendiri, sebagian orang menimbulkan kerusakan besar pada diri mereka
sendiri. Bagi manusia, dengan berpaling dari moralitas Al-Qur'an dan
Sunnah, ini berarti bahwa ia akan tetap tidak sadar akan kebenaran yang
merupakan hal yang sangat penting untuk diketahuinya.
Namun,
sumber daya yang telah dikumpulkan oleh dia dan manusia fana seperti
dia, tidak akan cukup untuk bertahan hidup dalam situasi dan masalah
yang mereka hadapi di dunia. Orang-orang seperti mereka akan
menghabiskan seluruh hidup mereka didalam kecemasan, kekhawatiran,
stres, ketakutan dan kesulitan, dan tidak ada solusi untuk masalah
mereka. Dan pada akhirnya, mereka akan menerima situasi ini sebagai
suatu yang normal dan akan menghabiskan sisa hidup mereka dalam keadaan
tertipu, dan mereka berpikir bahwa penderitaan mereka adalah "sebuah
kenyataan hidup", padahal keadaan seperti itu sebenarnya merupakan
hukuman karena tidak menjalani hidup dengan prinsip-prinsip moralitas
agama.
Allah mengumumkan kabar baik untuk orang beriman dalam kata-kata berikut:
Dan
sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang
mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan
yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan
mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (Surat
Saba: 37)
Orang
beriman mengalami efek positif dari "memperbaharui niatnya" setiap
hari. Tujuan seorang beriman yang memiliki sikap moral seperti ini
(selalu memperbaharui niat) adalah agar menjadi salah seorang diantara
"para hamba yang paling dicintai Allah." Untuk alasan seperti ini, saat
dia bisa sepenuhnya mengadopsi sikap moralitas ini, ia sekali lagi
berkeinginan untuk menjadi lebih tulus, lebih sensitif terhadap ridha
Allah, dan lebih teliti, hal ini akan memperdalam moralitasnya dan
bahkan lebih.
Hal
ini berlanjut hingga akhir hidupnya, ia tidak pernah merasa bahwa usaha
dan perbuatannya yang baik ini sudah mencukupi. Akibatnya, iman,
moralitas, kepribadian dan sikapnya, mengalami kemajuan terus menerus
dan pada akhirnya mencapai kesempurnaan.
Dalam Qur'an, Allah Memberi tahu kepada kita tentang karakter Muslim seperti itu, berikut ini:
Orang-orang
seperti itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah
orang-orang yang segera memperolehnya. (Surat Al-Mu’minun: 61)
Dengan
kehendak Allah, hidup sesuai dengan ajaran Al Qur'an dan Sunnah akan
menjadikan orang untuk mampu mengembangkan suatu wawasan yang luas dari
pemahaman, kecerdasan yang unggul, kemampuan untuk membedakan mana yang
benar dan salah, serta kemampuan untuk mempertimbangkan suatu hal secara
mendalam.
Karakter-karakter
seperti ini akan memastikan bahwa orang yang memiliki karakter-karakter
tersebut, akan menjalani hidup setiap saat dalam kehidupannya dalam
kemudahan yang berasal dari keuntungan-keuntungan ini.
Seseorang
yang menjalani hidupnya dengan tunduk pada Allah dan sesuai dengan
ajaran agama akan sangat berbeda dari orang lain dalam cara dia
berperilaku, duduk dan berjalan, dalam sudut pandangnya dan bagaimana ia
menjelaskan dan menafsirkan sesuatu hal, dan dalam solusi yang ia
temukan untuk masalah-masalah yang menghadapinya.
2012-04-13 16:45:04
PENTINGNYA MEMILIKI NIAT UNTUK BERBUAT BAIK SETIAP HARI
Karya Terkait
-
HADIAH LOMBA KARYA ILMIAH "MENGAPA TEORI EVOLUSI TIDAK ABSAH SECARA ILMIAH?" DINAIKKAN MENJADI 100.000 LIRA TURKI!
Lanjutkan... -
PERSEKONGKOLAN DAJJAL TELAH BERAKHIR - 2
Lanjutkan... -
TEKNIK PENGANUT DARWINISME: MEMICU KEGEGERAN DAN MENGHASUT MASYARAKAT
Lanjutkan... -
SATU-SATUNYA PEMECAHAN MASALAH PALESTINA: UNI ISLAM TURKI
Lanjutkan... -
KEBENARAN YANG DIAKUI POSTER BIS DARWINIS: DARWINISME = ATEISME
Lanjutkan... -
DEBAT EVOLUSI DIBENTUK OLEH HARUN YAHYA ... IA MEMILIKI PENGARUH SANGAT HEBAT - 11.12.2008 USA/PRI'S THE WORLD
Lanjutkan...
Seorang
yang beriman menjalani seluruh hidupnya berdasarkan Al Qur'an, dan
berusaha menerapkan secara hati-hati dari hari ke hari apa yang telah ia
baca dan pelajari dalam ayat-ayatnya. Dalam segala perbuatannya, sejak
saat dia bangun di pagi hari sampai waktu dia tertidur di malam hari,
dia memiliki niat bahwa dalam berpikir, berbicara dan bertindak itu
harus sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Al-Qur'an
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(Surat Al-An’am: 162)
Sejak
saat seorang muslim memiliki iman, ia telah membuat keputusan untuk
menghabiskan setiap saat dalam hidupnya untuk mendapatkan ridha Allah.
Sejak saat itu, ia menunjukkan semangat rohani dan usaha yang besar baik
dalam segi material maupun spiritual. Namun, karena kecenderungan yang
melekat, seorang Muslim tidak pernah merasa bahwa imannya sudah berada
pada tingkat yang cukup, sehingga selama belum sampai pada napas
terakhirnya, ia selalu memiliki kesempatan untuk meningkatkan
keimanannya di setiap saat dalam hidupnya.
Dengan
demikian, maka setiap hari, setiap jam, setiap saat, dia harus sekali
lagi membuat niat dalam hatinya untuk memperdalam imannya,
memperbaharuinya dan berkomitmen untuk menghabiskan setiap saat dalam
hidupnya dalam mengerjakan amal saleh sehingga mendapatkan ridhlo Allah.
Orang Yang Beriman Harus Memperbaharui Niatnya Setiap Hari
Pada
saat ini, seperti saat kita sedang membaca artikel ini, kitapun dapat
memperbaharui niat kita. Sejak saat ini, kita dapat berniat untuk
menghabiskan waktu kita, menggunakan kesempatan kita, dan mengerahkan
segenap kekuatan spiritual dan fisik kita untuk digunakan pada hal-hal
yang jauh lebih berguna, penuh perhatian dan tulus
Kita
bisa menilai setiap kesempatan dalam melaksanakan segala macam ibadah
dengan penuh semangat. Kita bisa mengamati setiap kesempatan yang dapat
menjadikan kita mendapatkan ridha Allah dan berlomba untuk melakukan
amal saleh.
Kita
bisa mengalami kemajuan dalam rangka mendapatkan ridha Allah jika tidak
memiliki pemikiran seperti "Saya sudah membuat perbuatan yang baik ini,
dan ini sudah cukup untuk hari ini," atau "Dibandingkan dengan orang
lain di sekitar saya, saya sudah melakukan banyak usaha yang lebih
besar, dan dalam hal apapun, saya lebih baik dari mereka",.
Apa
yang dimaksud di sini adalah keadaan yang sangat berbeda dan khas dari
pikiran. Tidak diragukan lagi, seorang Muslim menghabiskan setiap
waktunya sesuai dengan moralitas Al-Qur'an. Namun, sikap seseorang yang
membuat keputusan secara sadar dan tegas mengenai hal ini sangat jauh
berbeda, untuk hati nurani seseorang yang seperti itu, hal ini sangat
sensitif.
Dia
sangat peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Dia lebih
waspada terhadap pekerjaan yang sulit, dibandingkan dengan orang yang
lain. Dia adalah orang yang selalu berbicara dengan kata-kata terbaik.
Dia lebih baik, lebih damai dan lebih positif dibandingkan dengan orang
yang lain.
Dia
adalah orang yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang. Dia lebih
memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat dan berusaha untuk
memenuhinya, sebelum orang lain melakukannya. Dia selalu berpenampilan
dengan gaya yang damai dan sesuai. Suasana hatinya sangat berbeda dan
positif, dimana orang lain langsung bisa mengetahuinya.
Orang
beriman Berniat untuk Hidup dengan Nilai Moral Yang Diajarkan oleh
Allah dalam Al Qur'an dengan Cara Terbaik selama 24 Jam Sehari.
Apapun
kondisinya, orang beriman tidak akan berkompromi dalam menunjukkan
akhlak yang tinggi. Nilai-nilai mereka tidak berubah, mereka selalu
menyesuaikan dengan apa yang Allah Perintah dan Ridhoi.
Mereka mengambil Muhammad Rasulullah (saw) sebagai suri tauladan mereka yang Allah Puji dalam Al Qur'an dalam kata-kata ini:
Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung (Surat Al-Qalam: 4)
Hanya
ada satu cara untuk selamat dari hancur dalam siksaan kekal api neraka,
yaitu hidup menurut Al-Qur'an dan Sunnah, dimana dengan cara ini, Alloh
Menghadiahkan kepada manusia "suatu kemenangan"
Hidup
dalam Al-Qur’an dan Sunnah lah yang menyelamatkan manusia dari
kebodohan, di mana mereka tenggelam, cara berpikir mereka yang primitif,
lingkungan yang penuh dengan stres, karakter negatif, ketakutan yang
tak berdasar, keyakinan yang sesat, dimana kesemuanya inilah yang
merupakan penyebab dari disiksanya dalam neraka.
Dengan
menerapkan hidup berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, mereka memperoleh
pemahaman dan kebijaksanaan, nilai yang lebih tinggi, lingkungan yang
wajar, penuh dengan ketenangan pikiran, dan yang terpenting adalah hidup
di Surga yang penuh dengan berkah tiada akhir.
Hanya
ada satu cara untuk menghapus semua kecemasan, pertempuran, perang,
permusuhan, kemiskinan, kemelaratan dan kemarahan yang mengisi dunia:
yaitu dengan hidup sesuai dengan ajaran Al Qur'an dan Sunnah Muhammad
(saw). Tidak ada cara lain bagi seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan,
kesejahteraan, keadilan, kasih dan damai yang dia inginkan
Hidup
menurut Al-Qur'an dan Sunnah adalah semacam sebuah tameng terhadap
ketidakadilan, konflik, ketidaksetaraan, iri hati, perang,
ketidakseimbangan, kotoran, ketakutan, kefanatikan, kekejaman,
kekerasan, amoral, dan hal lain seperti itu adalah solusi yang paling
dasar bagi manusia agar mereka dapat hidup dengan nyaman, damai, penuh
kebahagiaan dan keadilan.
Meskipun
demikian, dan karena mereka telah berpaling dari moralitas agama yang
benar demi keuntungan kecil, keuntungan duniawi dan kelemahan manusia
itu sendiri, sebagian orang menimbulkan kerusakan besar pada diri mereka
sendiri. Bagi manusia, dengan berpaling dari moralitas Al-Qur'an dan
Sunnah, ini berarti bahwa ia akan tetap tidak sadar akan kebenaran yang
merupakan hal yang sangat penting untuk diketahuinya.
Namun,
sumber daya yang telah dikumpulkan oleh dia dan manusia fana seperti
dia, tidak akan cukup untuk bertahan hidup dalam situasi dan masalah
yang mereka hadapi di dunia. Orang-orang seperti mereka akan
menghabiskan seluruh hidup mereka didalam kecemasan, kekhawatiran,
stres, ketakutan dan kesulitan, dan tidak ada solusi untuk masalah
mereka. Dan pada akhirnya, mereka akan menerima situasi ini sebagai
suatu yang normal dan akan menghabiskan sisa hidup mereka dalam keadaan
tertipu, dan mereka berpikir bahwa penderitaan mereka adalah "sebuah
kenyataan hidup", padahal keadaan seperti itu sebenarnya merupakan
hukuman karena tidak menjalani hidup dengan prinsip-prinsip moralitas
agama.
Allah mengumumkan kabar baik untuk orang beriman dalam kata-kata berikut:
Dan
sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang
mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan
yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan
mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (Surat
Saba: 37)
Orang
beriman mengalami efek positif dari "memperbaharui niatnya" setiap
hari. Tujuan seorang beriman yang memiliki sikap moral seperti ini
(selalu memperbaharui niat) adalah agar menjadi salah seorang diantara
"para hamba yang paling dicintai Allah." Untuk alasan seperti ini, saat
dia bisa sepenuhnya mengadopsi sikap moralitas ini, ia sekali lagi
berkeinginan untuk menjadi lebih tulus, lebih sensitif terhadap ridha
Allah, dan lebih teliti, hal ini akan memperdalam moralitasnya dan
bahkan lebih.
Hal
ini berlanjut hingga akhir hidupnya, ia tidak pernah merasa bahwa usaha
dan perbuatannya yang baik ini sudah mencukupi. Akibatnya, iman,
moralitas, kepribadian dan sikapnya, mengalami kemajuan terus menerus
dan pada akhirnya mencapai kesempurnaan.
Dalam Qur'an, Allah Memberi tahu kepada kita tentang karakter Muslim seperti itu, berikut ini:
Orang-orang
seperti itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah
orang-orang yang segera memperolehnya. (Surat Al-Mu’minun: 61)
Dengan
kehendak Allah, hidup sesuai dengan ajaran Al Qur'an dan Sunnah akan
menjadikan orang untuk mampu mengembangkan suatu wawasan yang luas dari
pemahaman, kecerdasan yang unggul, kemampuan untuk membedakan mana yang
benar dan salah, serta kemampuan untuk mempertimbangkan suatu hal secara
mendalam.
Karakter-karakter
seperti ini akan memastikan bahwa orang yang memiliki karakter-karakter
tersebut, akan menjalani hidup setiap saat dalam kehidupannya dalam
kemudahan yang berasal dari keuntungan-keuntungan ini.
Seseorang
yang menjalani hidupnya dengan tunduk pada Allah dan sesuai dengan
ajaran agama akan sangat berbeda dari orang lain dalam cara dia
berperilaku, duduk dan berjalan, dalam sudut pandangnya dan bagaimana ia
menjelaskan dan menafsirkan sesuatu hal, dan dalam solusi yang ia
temukan untuk masalah-masalah yang menghadapinya.
2012-04-13 16:45:04
Artikel terkait
- Kekuatan Do’a
- PENTINGNYA MEMILIKI NIAT UNTUK BERBUAT BAIK SETIAP HARI
- SADARLAH BAHWA ALLAH-LAH YANG MENGATUR SEGALA SESUATU DALAM SETIAP DETAIL NYA
- KESEDERHANAAN ORANG-ORANG MU’MIN
- GUNTUR BERTASBIH MEMUJINYA
- MENGHINDARI KESIA-SIAAN
- SEBELUM ANDA MENYESAL
- ALLAH BERKUASA ATAS SEGALANYA
- KEBENARAN YANG SEGERA TERUNGKAP
Tambahan terkini
-
Pengaruh hipnotis Dajjal membuat manusia tak mampu melihat p...
ArtikelLanjutkan... -
KARAKTERISTIK YANG MENUNJUKKAN TINGKAT KECERDASAN MANUSIA NE...
ArtikelLanjutkan... -
PENGANIAYAAN DI BURMA, BUKAN OLEH UMAT BUDHA, MELAINKAN KARE...
ArtikelLanjutkan... -
TRANSFORMASI SEL MENJADI ORGAN-ORGAN YANG BERBEDA ADALAH SAL...
ArtikelLanjutkan... -
BENTUK CIPTAAN TUHAN LAINNYA
ArtikelLanjutkan... -
Pembentukan Hujan
Keajaiban Al-Qur'anLanjutkan... -
WAKTU YANG SEMAKIN SINGKAT MERUPAKAN PERTANDA HADIRNYA HAZ...
ArtikelLanjutkan... -
ISTANBUL
ArtikelLanjutkan... -
Kekuatan Do’a
ArtikelLanjutkan... -
Evolusi International
WebsiteLanjutkan... -
PENGLIHATAN KUCING YANG TAJAM DI MALAM HARI
ArtikelLanjutkan... -
SEBUAH NEGARA MISKIN DI TENGAH KONFLIK SOSIAL
ArtikelLanjutkan... -
PENTINGNYA MEMILIKI NIAT UNTUK BERBUAT BAIK SETIAP HARI
ArtikelLanjutkan... -
TIDAK ADA PERUBAHAN DALAM AL-QUR'AN
ArtikelLanjutkan... -
DUNIA ELEKTRON YANG MENAKJUBAN
ArtikelLanjutkan... -
LIAM NEESON, SEORANG BINTANG FILM TERKENAL, MEMUTUSKAN UNTUK...
ArtikelLanjutkan... -
KETIADAAN WAKTU & REALITAS TAKDIR TAFSIR ILMIAH TENTANG PENC...
BukuLanjutkan... -
Keajaiban Hormon
WebsiteLanjutkan... -
KONSEP-KONSEP DASAR DI DALAM ALQURAN
BukuLanjutkan... -
PERNAHKAH ANDA MERENUNG TENTANG KEBENARAN
BukuLanjutkan...
Semua materi dapat dikopi,dicetak, dan didistribusikan berdasarkan situs ini
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
(c) All publication rights of the personal photos of Mr. Adnan Oktar that are present in our website and in all other Harun Yahya works belong to Global Publication Ltd. Co. They cannot be used or published without prior consent even if used partially.
© 1994 Harun Yahya. www.harunyahya.com
Langganan:
Postingan (Atom)