Selasa, 08 April 2014

Tuma’ninah



Allah befirman tentang thuma’ninah (ketentraman) ini,

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28).
“Hai jiwa yang tentram, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al-Fajr: 27-30)

Thuma’ninah merupakan ketentraman hati terhadap sesuatu, tidak cemas dan gelisah. Di dalam atsar disebutkan, “Kejujuran merupakan ketentraman dan kebohongan merupakan kebimbangan.”Allah menjadikan thuma’ninah di dalam hati orang-orang yang beriman dan di dalam jiwa mereka, lalu memberikan kabar gembira,bahwa yang masuk surga adalah orang-orang yang memiliki jiwa yang thuma’ninah. Firman Allah, “Hai jiwa yang tentram, kembalilah kepada Rabbmu”, merupakan dalil bahwa jiwa itu tidak kembali kepada Allah kecuali jika dalam keadaan thuma’ninah. Maka di antara doa yang biasa diucapkan orang-orang salaf, “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku jiwa yang thuma’ninah kepada-Mu.”

Pengarang Manazilus-Sa’irin mengatakan, “Thuma’ninah
adalah ketenangan yang dikuatkan rasa aman yang sesungguhnya, menyerupai pandangan mata secara langsung.”
Ada dua perbedaan antara sakinah (ketenangan) dan thuma’ninah(ketentraman):
- Sakinah merupakan keadaan secara tiba-tiba yang terkadang disertai dengan hilangnya rasa takut. Sedangkan thuma’ninah merupakan pengaruh yang timbul dari adanya sakinah. Seakan-akan thuma’ninah merupakan puncak dari sakinah.
- Sebagai gambaran, keberuntungan yang diperoleh karena sakinah, seperti seseorang yang berhadapan dengan musuh. Ketika musuh lari darinya, maka hatinya menjadi tenang. Sedangkan thuma’ninah seperti benteng yang pintunya terbuka, lalu dia masuk ke dalamnya, sehingga dia merasa aman dari musuh. Thuma’ninali sifatnya lebih umum, karena ditunjang ilmu, pengabarannya, keyakinan dan keberuntungan. Maka dari itu hati menjadi thuma’ninah karena bacaan Al-Qur’an, karena ada iman kepadanya, mengetahuinya dan mendapat petunjuknya. Sedangkan sakinah merupakan keteguhan hati yang dapat mengusir rasa takut dan hilangnya kecemasan, seperti keadaan pasukan Allah yang dapat membunuh musuh.

Tanda_tanda kiamat



Tanda_tanda kiamat

Hudzaifah bin As-yad al-Ghifary berkata, sewaktu kami sedang berbincang, tiba-tiba datang Nabi Muhammad S.A.W kepada kami lalu bertanya, "Apakah yang kamu semua sedang bincangkan.?"
Lalu kami menjawab, "Kami sedang membincangkan tentang hari Kiamat."
Sabda Rasulullah S.A.W. "Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda :-
• Asap
• Dajjal
• Binatang melata di bumi
• Terbitnya matahari sebelah barat
• Turunnya Nabi Isa A.S
• Keluarnya Yakjuj dan Makjuj
• Gerhana di timur
• Gerhana di barat
• Gerhana di jazirah Arab
•Keluarnya api dari kota Yaman menghalau manusia ke tempat pengiringan mereka.

Dajjal maksudnya ialah bahaya besar yang tidak ada bahaya sepertinya sejak Nabi Adam A.S sampai hari kiamat. Dajjal boleh membuat apa saja perkara-perkara yang luar biasa. Dia akan mendakwa dirinya Tuhan, sebelah matanya buta dan di antara kedua matanya tertulis perkataan 'Ini adalah orang kafir'.
Asap akan memenuhi timur dan barat, ia akan berlaku selama 40 hari. Apabila orang yang beriman terkena asap itu, ia akan bersin seperti terkena selsema / flu, sementara orang kafir pula keadaannya seperti orang mabuk, asap akan keluar dari hidung, telinga dan dubur mereka.

Binatang melata yang dikenali sebagai “ Dabatul Ard “ ini akan keluar di kota Mekah dekat gunung Shafa, ia akan berbicara dengan kata-kata yang fasih dan jelas. Dabatul Ard ini akan membawa tongkat Nabi Musa A.S dan cincin Nabi Sulaiman A.S.
Apabila binatang ini memukulkan tongkatnya ke dahi orang yang beriman, maka akan tertulislah di dahi orang itu 'Ini adalah orang yang beriman'. Apabila tongkat itu dipukul ke dahi orang yang kafir, maka akan tertulislah 'Ini adalah orang kafir'.

Turunnya Nabi Isa. A.S di negeri Syam di menara putih, beliau akan membunuh dajjal. Kemudian Nabi Isa A.S akan menjalankan syariat Nabi Muhammad S.A.W.
Yakjuj dan Makjuj pula akan keluar, mereka ini merupakan dua golongan. Satu golongan kecil dan satu lagi golongan besar. Yakjuj dan Makjuj itu kini berada di belakang bendungan yang dibangunkan oleh Iskandar Zulqarnain. Apabila keluarnya mereka ini, bilangannya tidak terhitung banyaknya, sehingga kalau air laut Thahatiah diminum nescaya tidak akan tinggal walau pun setitik.
Rasulullah S.A.W telah bersabda, " Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualan di pasar, sedikit saja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi di merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak zina, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang di masjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq"
Berkata Ali bin Abi Talib, Akan datag di suatu masa di mana Islam itu hanya akan tinggal namanya saja, agama hanya bentuk saja, Al-Qur'an hanya dijadikan bacaan saja, mereka mendirikan masjid, sedangkan masjid itu sunyi dari zikir menyebut Asma Allah. Orang-orang yang paling buruk pada zaman itu ialah para ulama, dari mereka akan timbul fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka juga. Dan kesemua yang tersebut adalah tanda-tanda hari kiamat."

Sabda Rasulullah S.A.W, "Apabila harta orang kafir yang dihalalkan tanpa perang yang dijadikan pembahagian bergilir, amanat dijadikan seperti harta rampasan, zakat dijadikan seperti pinjaman, belajar lain daripada agama, orang lelaki taat kepada isterinya, menderhakai ibunya, lebih rapat dengan teman dan menjauhkan ayahnya, suara-suara lantang dalam masjid, pemimpin kaum dipilih dari orang yang fasik, oarng dimuliakan kerana ditakuti akan tindakan jahat dan aniayanya dan bukan kerana takutkan Allah, maka kesemua itu adalah tanda-tanda kiamata."

DAJJAl : ARTINYA : BAHAYA BESAR 

Daftar Pustaka : Rahmat Mulyadi 


SIFAT-SIFAT DZAT DAN SIFAT-SIFAT AF’AL


Sifat-sifat Dzat yaitu sifat-sifat (ma’nawiyah). Yaitu sifat hidup, mendengar, melihat, berkehendak, berdiri sendiri dan sebagainya.
Sedangkan sifat-sifat (af’al) yaitu sifat-sifat yang berhubungan dengan segala yang diperbuat Allah, seperti menciptakan alam dan seluruh isinya ini, memberi rizqi kepada semua makhluq-Nya, dan sebagainya.
Dzat. Dan kedudukan sifat-sifat itu hanya sebagai tambahan dari sifat Dzat. Namun dikalangan ulama sendiri masih terdapat perselisihan paham tentang kedudukan Dzat. Adapun yang menjadi pangkal perselisihan adalah :
- Apakah Allah itu melihat dengan (Dzat), mendengar dengan (Dzat), berfirman dengan (Dzat) dan seterusnya?
- Atau apakah Allah itu melihat dengan penglihatan, mendengar dengan pendengaran, hidup dengan kehidupan dan seterusnya?
Lalu bagaimana pendapat kita sendiri mengenai kedua tanda di atas? Sebagaimana orang mukmin, kita hendaknya menjauhkan diri dengan memikirkan persolan-persoalan semacam itu. Karena bagaimana pun dan dengan apapun juga pemikiran kita yang sangat terbatas ini tak akan mampu memecahkan rahasia Allah.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-qur’an surat Thooha ayat 110, yang artinya :
Allah Maha Mengetahui apa yang ada dihadapan dan dibelakang mereka. Mereka (manusia-manusia) itu tidak dapat meliputi (mengetahui) Tuhan dengan pengetahuannya”.

Juga dalam sebuah Hadits Rasulullah saw. Bersabda yang artinya :
Berfikirlah mengenai makhluq allah dan jangan berfikir mengenai Allah (Dzat-Nya), sebab semua tentu tak dapat mencapai kadar pikirannya”.

Dengan demikian, yang diperintahkan kepada kita hanyalah sebatas meyakini aka maujudnya (adanya) Allah yang memiliki nama-nama yang baik (Asmaul Husna), mempunyai sifat-sifat yang luhur dan yang telah mencapai kesempurnaan dalam hal apa saja secara mutlak.

133. SEGALA SESUATU BISA MAUJUD KARENA ADANYA ALLAH

Azhara kullu syai-in liannahulbaathinu wathawaa wujuuda kulli syai-in liannahu zhaahirun.

Artinya : Allah mendhahirkan segala sesuatu, karena sesungguhnya Dia (Allah) itu bersifat bathin. Dan Dia (Allah) yang melipat adanya segala sesuatu sebab Allah itulah yang dhahir (jelas) pada tiap-tiap sesuatu”.

Diantara nama-nama Allah yang baik, terdapat nama Adh-Dhohir, Al-Bathin. Adh-Dhohir artinya : Maha Nyata, yang dengan sifat-sifat-Nya ini Allah menyatakan atau menampakkan kewujudan-Nya dengan tanda-tanda ciptaan-Nya. Sedang Al-Bathin artinya : Maha Tersembunyi, yang dengan sifat-sifat-Nya ini menyebabkan tak seorangpun atau sesuatupun yang dapat mengenal Dzat-Nya.
Dengan sifat-sifat-Nya, Allah menjadikan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya menjadi terang dan nyata, sehingga tidak ada sesuatu yang samara di sisi-Nya. Dan dengan sifat Dhohir-Nya, Allah menjadikan sesuatu yang dikehendaki-Nya menjadi samara, sedang tidak ada sesuatu yang nyata di sisi-Nya.
Jadi kesimpulan, bahwa Allah meujud di segala sesuatu yang wujud. Dan tidak ada yang meujud selain Dia, kecuali dengan jalan yang mengikuti jalan-Nya (Sunnah-Nya).


ALLAH MENJADIKAN DUNIA INI PENUH DENGAN UJIAN ADALAH DENGAN MAKSUD AGAR MENUSIA MERASA BOSAN TERHADAPNYA, LALU CENDERUNG PADA KEHIDUPAN AKHIRAT



189. ALLAH MENJADIKAN DUNIA INI PENUH DENGAN UJIAN ADALAH DENGAN MAKSUD AGAR MENUSIA MERASA BOSAN TERHADAPNYA, LALU CENDERUNG PADA KEHIDUPAN AKHIRAT

Innamaa ja’alahaa mahallaan lil-aghyaari wama’dinaan lil-akdaari tazhidaan laka fiihaa.

Artinya : Bahwasanya Allah menjadikan dunia ini sebagai tempat ujian (kesedihan) dan sebagai sumber kekeruhan agar kamu merasa bosan terhadapnya”.
Kalau dipikir-pikir, memang sungguh tidak menyenangkan hidup didunia ini. Coba bayangkan, hanya sementara tetapi penuh dengan ujian. Orang yang kaya merasa pusing mengurusi kekayaannya dan yang miskin merasa susah karena tidak bisa memenuhi keinginan-keinginannya.
Begitulah kehidupan dunia. Dan memang semuanya itu sengaja dijadikan Allah demi kebaikan manusia sendiri, yakni agar mereka lebih mementingkan kehidupan akhiratnya daripada kehidupan dunianya, meskipun kehidupan dunia itu sendiri tidak boleh dilupakan sama sekali.
Ada empat katagori yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk menilai kehidupan seseorang, apakah cenderung kepada (dunia) ataukah kepada (akhirat) .
Keempat katagori tersebut adalah :
1.       Manusia hamba materi atau kebendaan, yang berarti hidupnya mulia ketika di dunia, tetapi ketika di akhirat. Sungguh celaka orang yang termasuk kedalam katagori ini. Memang mungkin ia dapat mencapai kemuliaan di dunia. Tetapi di akhirat ia akan mendapatkan kehinaan. Seseorang yang demikian ini selalu mencurahkan seluruh tenaga dan fikirannya untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, sehingga lupa kepada kewajiban-kewajibannya terhadap Tuhannya. Jiwa dan fikirannya tidak bisa beristirahat dengan tenang, karena selalu dipenuhi oleh khayalan-khayalan yang membungbung yang menuntut dirinya untuk segera mencapainya, selain itu juga diliputi kekhawatiran-kekhawatiran akan kehilangan benda-benda yang telah dikumpulkan dan yang begitu di cintainya. Perasaan takut kehilangan ini menyebabkan ia menjadi (kikir) dan enggan mengulurkan tangannya untuk memberi bantuan-bantuan kepada orang lain.
Mereka beranggapan, bahwa di dunia inilah tempat kesenangan. Mata hatinya telah tertutup. Hanya mata lahirnya saja yang masih berbinar-binar menyaksikan keindahan dunia. Mereka sama sekali  lupa, atau memang sengaja tidak mempedulikan lagi tentang Firman allah dalam Al-qur’an. Surat Ali-Imran ayat 4, yang artinya :
“jadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang di ingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda, pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga)”.
Juga dalam Surat yang sama ayat 185, yang artinya :
“ Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
Selain itu ada lagi peringatan Allah terhadap orang-orang yang menjadi hamba kebendaan ini, di antaranya yang terdapat dalam Al-qur’an surat Hud ayat 15-16, yang artinya :
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami memberikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak diragukan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali (neraka) dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang mereka kerjakan”.
2. Manusia hamba kerohaniaan, yang berarti hidup di dunia, tetapi mulia di akhirat.
Yang dimaksud manusia yang diperhamba oleh rohaninya adalah seseorang yang karena (Iman) dan (Taqwanya) yang membabi buta hingga seluruh hidupnya hanya diperuntukkan untuk (Ibadah) dan mencari kepuasan (Batin) atau (Rohaninya) semata.waktu-waktu yang dihasilkan di masjid atau musholla untuk mengerjakan (shalat) dan (dzikir) sebanyak-banyaknya, atau untuk berdakwah dari satu tempat ketempat lainnya.
Akan tetapi untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidupnya sendiri atau untuk keluarganya ia menggatungkannya pada belas kasih orang lain. Ia tidak mau berusah sendiri mencarinya karena merasa khawatir akan terpengaruh oleh keduniaan.
Orang-orang yang demikian ini, pada hakekatnya tidak mau mengamalkan kandungannya (isi) Al-Qur’an, terutama pada Surat Al-Jumu’ah ayat 10, yang artinya :
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”.
Dari penjelasan ayat di atas, nyatalah bagi kita, bahwa seorang muslim itu tidak hanya disuruh melaksanakan shalat saja, puasa saja, atau berdzikir saja. Tetapi ia juga wajib mencari harta, baik untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidupnya sendiri maupun kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.
1. Manusia muslim dua segi, yang berarte hidup mulia di dunia dan di  akhirat.
Orang-orang yang benar beruntung adalah orang yang dapat menyumbangkan antara kebutuhan jasmani dengan kebutuhan rohaninya sehingga dapat tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirta.
Terhadap orang-orang yang demikian ini, Allah melukiskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 201-202,yang artinya :
“Dan di antara mereka ada yang berdo’a :Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia mapun di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungannya”. Orang-orang termasuk dalam bagian ini apabila mencari harta, maka ia selalu berpegang teguh pada garis-garis Mu’amalah dan Tijaroh yang sudah ditentukan oleh agama.
Dan apabila beribadah, maka ibadahnya itu ia laksanakan sesuai dengan yang diperintahkan agama (tidak berlebih-lebihan), sehingga tidak sampai melupakan kepentingan dunianya.
Selain itu, dalam berusaha atau bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri maupun untuk kebutuhan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya selalu ia niatkan untuk (beribadah) kepada-Nya dan bukan untuk mencari harta semata.
4.Manusia polos, yang berarti hina di dunia dan hina pula di akhirat. Orang yang termasuk dalam katagori ke empat ini adalah orang yang paling sial dan paling merugi. Bagaimana tidak, di dunia hidupnya sudah menderita dan di akhirat akan lebih menderita lagi.
Yang demikian ini biasanya terjadi pada orang-orang miskin yang tidak sabar dengan keadaannya. Akibatnya ia menjadi malas untuk beribadah, bahkan tingkah lakunya cenderung kepada perbuatan dosa dan maksiat. Nah, dari k empat katagori di atas kita dapat menilai diri pribadi masing-masing. Kira-kira kita ini termasuk kedalam katagori yang mana. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabut ayat 6, berikut ini, yang artinya :
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”.