Selasa, 10 Maret 2020

KETERANGAN RINGKAS AL QUR’AN










JUZ 26   








بسم الله الرحمن الرحي


Kata Pengantar



الحمد لله رب العالمين وصلي الله وسلم على نبينا محمد وعلى اله وأصحابه أجمعين أما بعد


          
  Sesungguhnya Al-Qur’an merupakan nikmat Alloh Y yang besar bagi para hamba, padanya terdapat kebahagian dunia dan akhirat, dan bagi yang membacanya akan diberi pahala yang besar pula, sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud t:



مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الْم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.


“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Alloh Y maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu digandakan sepuluh kali lipat, akau tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif itu satu huruf dan lam satu huruf dan mim satu huruf”. HR. Tirmidzi



            Dan Alloh Y memerintahkan untuk mentadabburi Al-Qur’an dan memahaminya sebagaimana  Alloh Y berfirman :


أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا


Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?





            Dan untuk memahami Al-Qur’an butuh penjelasan dari ulama’ yang mana mereka telah mengambil penjelasan tersebut dari para salaf yang menimba ilmu dari Rosululloh r, sehingga kita dapat memahami Al-Qur’an dengan pemahaman yang benar yang tidak didasari oleh akal belaka. Lebih-lebih dari kalangan manusia yang bukan dari keturunan arab, jangankan makna ayat, artinya sajapun kebanyakan dari mereka tidak mengetahuinya, maka bagaimana akan memahaminya. Maka kami menghadiahkan tulisan ini kepada para pembaca, sebagai keterangan ringkas untuk memudahkan para pemula dalam memahami terjemah dari ayat Al-Qur’an, karena sekedar membaca terjemah terkadang tidak dapat memahami maksud yang sebenarnya.


SEBAB PENULISAN



            Sebab yang mendorong penulis untuk menyusun tulisan ini adalah permintaan salah seorang teman di Makassar, beliau meminta kami agar dituliskan keterangan ringkas juz 26-27 untuk memudahkan menghafal, karena jika seseorang faham akan maksud ayat, maka hal itu akan membantunya dan memudahkannya menghafal ayat tersebut. Maka kami pun berusaha untuk meluangkan waktu agar bisa memenuhi permintaan tersebut, karena kami lihat hal ini memiliki manfaat yang besar bagi para pemula yang tidak mampu memahami bahasa arab. Dan Alhamdulillah telah kami selesaikan untuk juz 26, selanjutnya untuk juz 27 akan menyusul dan mudah-mudahan kami bisa menyelesaikannya sampai juz 30, adapun selanjutnya maka  kami hanya bisa berharap, mudah-mudahan ada yang menyelesaikan semuanya.


PENYUSUNAN TULISAN



            Adapun cara yang kami lakukan dalam penyusunan tulisan ini, maka kami awali dengan menyebutkan ayat, kemudian kami sebutkan terjemahnya, dan kami ambil terjemah tersebut dari terjemahan Indonesia yang terdapat dalam maktabah syamilah, kemudian kami cocokkan dengan penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, jika kami lihat ada kalimat yang kurang sesuai dengan penjelasan Ibnu Katsir maka kami perbaiki kalimat tersebut dan kami sesuaikan dengan tafsirnya, kemudian kami sebutkan di bawahnya keterangan untuk memahamkan terjemahan dan ayat tersebut. Dan cara kami dalam memberi keterangan, kami berpedoman dengan tafsir Ibnu Katsir, dan kami simpulkan keterangan beliau. Dan kami berusaha untuk menyusun kesimpulan tersebut dengan bahasa yang mudah dan ringkas, akan tetapi terkadang keterangan kami lebih panjang dari penjelasan beliau, hal itu terjadi karena keadaan menuntut, demi memahamkan maksud. Adapun hadits-hadits yang disebutkan oleh Ibnu Katsir maka banyak sekali yang kami tinggalkan, dan kami hanya mengambil satu atau dua hadits sesuai kebutuhan. Maka tentu saja tulisan ini memiliki banyak kekurangan, karena itu kami tidak menyarankan untuk berpedoman dengan tulisan ini bagi yang bisa memahami bahasa arab, karena lebih utama baginya untuk langsung membaca tafsir Ibnu Katsir. Dan perlu digarisbawahi bahwa tujuan utama kami bukan menjelaskan semua masalah yang berkaitan dengan ayat tersebut, akan tetapi tujuan kami hanyalah memberi keterangan untuk memahamkan terjemah dari ayat tersebut.


            Kemudian kami tambahkan dalam catatan kaki masalah-masalah yang penting yang berkaitan dengan keyakinan ahlu sunnah yang ditunjukkan oleh ayat tersebut dalam bentuk yang ringkas pula, demi memudahkan para pemula. Dan kami jelaskan pula keadaan hadits yang kami sebutkan dalam keterangan itu dan kami sebutkan jalannya, walaupun sebenarnya bisa menyulitkan pembaca yang belum mengenal ilmu hadits, maka cukup baginya kesimpulannya apakah hadits tersebut sohih ataukan dhoif (lemah). Dan kami sebutkan jalannya berikut cacatnya karena bisa jadi ada yang mengetahui ilmu hadits dan kemudian menuntut bukti akan sohih atau lemahnya hadits tersebut, maka apa yang telah tercantum cukup menjadi jawaban atas tuntutan tersebut. Adapun hukum yang kami tetapkan untuk hadits tersebut, sohih ataupun dhoif, itu semua hanya sebatas ijtihad dan kemampuan kami, tidak menutup kemungkinan kami salah dan keliru. Maka jika kami benar maka itu adalah karunia dari Alloh Y, dan jika kami keliru maka itu adalah sebab dari kekurangan ilmu yang kami miliki, dan kami sangat berterimakasih jika ada yang meluruskan kekeliruan itu.


            Kami berharap mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi ummat, dan menjadi harta simpanan kami di akherat kelak untuk dapat meraih surga yang dijanjikan Alloh Y bagi hambaNya yang bertaqwa.



SURAT AL-AHQOF


بسم الله الرحمن الرحيم


حم (1) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (2)



1. Haa Miim


2. Kitab ini diturunkan dari Alloh yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


            Dalam ayat ini Alloh Y mengkhabarkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi-Nya, diturunkan pada Rosul-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم([1]).



مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ (3)


3. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.


            Alloh  menjelaskan bahwa Alloh  menciptakan langit dan bumi dan yang ada antara keduanya bukan untuk perkara yang sia-sia. Sedangkan orang-orang kafir mereka terus berpaling dari apa yang telah diturunkan Alloh  kepada para Rosul-Nya.



قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِنْ عِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (4)



4. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian seru selain Alloh; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Alloh) dalam (penciptaan) langit? bawalah kepada-Ku kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kalian adalah orang-orang yang benar”


            Yaitu kaum musyrikin mereka mempersekutukan Alloh , maka Alloh  menuntut mereka untuk menunjukkan tempat yang telah diciptakan oleh sekutu-sekutu mereka dari bumi ini sehingga mereka berhak disembah dari selain Alloh , ataukah sekutu-sekutu mereka itu berserikat dengan Alloh  dalam penciptaan langit dan bumi ini, tentunya ini mustahil, karena mereka tidak memiliki hak sedikitpun walaupun hanya sekulit biji kurma. Karena itu Alloh  menantang mereka untuk mendatangkan kitab-kitab Alloh  yang telah diturunkan kepada para nabi sebelumnya yang memerintahkan untuk menyembah berhala-berhala itu, atau bukti yang nyata yang membenarkan jalan yang mereka tempuh itu. Tentu mereka tidak mampu mendatangkan itu semua.


وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ (5)


5. dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru sembahan-sembahan selain Alloh yang tiada dapat mengabulkan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari doa mereka.


            Yaitu tidak ada orang yang lebih sesat daripada orang yang menyembah selain Alloh , sedangkan berhala-berhala itu lalai dari doa mereka, tidak bisa mendengar, tidak pula melihat, tidak mampu mendatangkan manfaat untuk dirinya tidak pula menolak mudarat dari dirinya, maka bagaimana mungkin bisa mengabulkan doa mereka?


وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ (6)


6. dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari peribadatan mereka.



            Yaitu para makhluk yang mereka sembah dulu di dunia akan menjadi musuh dan mengingkari peribadatan mereka di hari kiamat kelak, sebagaimana Alloh  kisahkan dalam surat Maryam ayat 81-82 dan surat Al-Ankabut ayat 52.



 وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (7)



7. dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: “Ini adalah sihir yang nyata”.



            Demikianlah keadaan kaum musyrikin, mereka kufur dan ingkar terhadap ayat-ayat Alloh  yang telah jelas bagi mereka, sedangkan mereka tidak memiliki hujjah dan bukti nyata melainkan hanya ucapan ” ini adalah sihir”.




أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَلَا تَمْلِكُونَ لِي مِنَ اللَّهِ شَيْئًا هُوَ أَعْلَمُ بِمَا تُفِيضُونَ فِيهِ كَفَى بِهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (8)


8. bahkan mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (Al Quran)”. Katakanlah: “Jika aku mengada-adakannya, Maka kalian tiada mempunyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Alloh itu. Dia lebih mengetahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang Al Quran itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antara kalian dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.


            Yaitu : jika aku berdusta atas-Nya dan aku mengaku-ngaku bahwa Alloh  telah mengutusku sedangkan Alloh tidak mengutusku  tentu Alloh  Y akan mengadzabku dengan adzab yang sangat pedih, dan tidak seorangpun mampu melindungiku dari adzab-Nya, sebagaimana Alloh Y berfirman dalam surat Al-Haqqoh ayat 44-47 :

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ (44) لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (45) ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (46) فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (47)


 

44. seandainya Dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami,


45. niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya (diadzab)


46. kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.


47. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.


            Kemudian Alloh  menyebutkan dua nama-Nya yang agung yaitu Al-Ghofur yang mengandung sifat ampunan dan Ar-Rohim yang mengandung sifat rohmah dan kasih sayang, maka dalam ayat ini Alloh menganjurkan pada mereka agar segera bertaubat dan kembali kepada Alloh .



قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُبِينٌ (9)


9. Katakanlah: “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadap kalian. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas”.


            Yaitu: aku bukanlah awal Rosul dan bukan pembawa sesuatu yang tidak ada contoh sebelumnya sehingga kalian mengingkari dan menganggap jauh akan pengutusanku ini, sesungguhnya Alloh  telah mengutus para Nabi dari sebelumku.


Dan Firman Alloh “Dan aku (Rosululloh r) tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadap kalian”. Di sini ada dua pendapat, ada yang mengatakan bahwa ayat ini sudah dihapus dengan surat Al-Fath ayat 2 yang menjelaskan bahwa Alloh  telah mengampuni dosa Rosululloh r yang telah lalu dan yang akan datang, dan beliau dijanjikan surga. Pendapat kedua : yaitu aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku di dunia ini, apakah aku akan diusir sebagaimana para Nabi dulu diusir, ataukah aku akan dibunuh sebagaimana para Nabi dulu dibunuh?! Dan aku tidak tahu apakah kalian akan ditenggelamkan ke dalam bumi ataukah akan dihujani dengan batu?! Adapun di Akhirat maka telah dipastikan bahwa Rosululloh r masuk surga dan juga para pengikutnya. Pendapat kedua inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.


قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (10)


10. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaKu, Bagaimanakah pendapat kalian jika Al Quran itu datang dari sisi Alloh, sedangkan kalian mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Quran lalu Dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Alloh tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.


            Yaitu: Al-Qur’an itu diturunkan dari Alloh , dan kitab-kitab sebelumnya yang telah diturunkan kepada para Rosul telah menjadi saksi akan kebenaran Al-Qur’an, dan seorang saksi dari bani isroil ini pun telah beriman akan kebenarannya. Yang dimaksud dengan seorang saksi itu adalah Abdulloh bin Salam sebagaimana diriwayatkan Bukhori dan Muslim.


وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ (11)


11. Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau Sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului Kami (beriman) kepadanya. dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”.


            Yaitu mereka menganggap bahwa diri mereka memiliki kedudukan di sisi Alloh  sehingga layak untuk mendapatkan perhatian, karena itu mereka mengatakan seandainya Al-Qur’an itu baik tentu mereka yang terlebih dahulu beriman, bukan orang-orang seperti Bilal dan Suhaib dan Khubab dan yang semisal mereka dari kalangan orang lemah dan budak. Mereka telah keliru, menganggap diri mereka punya kedudukan di sisi Alloh  dan yang pantas mendapatkan perhatian, padahal tidaklah demikian. Kemudian mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an itu kedustaan lama, yaitu mewarisi dari orang-orang sebelumnya.



وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً وَهَذَا كِتَابٌ مُصَدِّقٌ لِسَانًا عَرَبِيًّا لِيُنْذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ (12)


12. dan sebelum Al Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. dan ini (Al Quran) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.


            Yaitu: sebelum turunnya Al-Qur’an telah diturunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa r, dan Al-Qur’an ini adalah kitab yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya yang mencakup peringatan terhadap orang kafir dan kabar gembira untuk kaum mukminin.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (13) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (14)


13. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Alloh”, kemudian mereka tetap istiqamah, Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.


14. mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.


            Yaitu mereka tidak khawatir atas apa yang akan datang dan tidak pula berduka cita atas apa yang telah lalu. Dan surga itu sebagai balasan atas amalan mereka. Maknanya adalah amalan itu merupakan sebab untuk mendapatkan rahmat Alloh sehingga mereka masuk surga, bukan maknanya seseorang itu masuk surga karena amalannya, akan tetapi masuk surga karena rahmat Alloh , dan amalan merupakan sebab untuk mendapatkan rahmat Alloh , sebagaimana dalam hadits Abu Huroiroh t:



قاربوا وسددوا واعلموا أنه لن ينجو أحد منكم بعمله قالوا يا رسول الله ولا أنت ؟ قال ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمة منه وفضل


“Bersedang-sedanglah (dalam amalan, tidak berlebihan tidak pula lalai) dan istiqomahlah (di atas al-haq), dan ketahuilah, tidaklah selamat salah seorang dari kalian karena amalannya,” Mereka berkata : “Wahai Rosululloh, Anda juga tidak?”, beliau menjawab: “Aku juga tidak, melainkan Alloh melimpahkan kepadaku rohmat-Nya dan fadhilah-Nya”. HR. Muslim.



وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (15)


15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.


            Dalam ayat ini Alloh  memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua setelah menyebutkan ayat-ayat tauhid, sebagaimana Alloh  telah mengiringkan kedua kewajiban  ini dalam ayat yang lain seperti yang tercantum dalam surat A-Baqoroh ayat 83, dan An-Nisa’ ayat 36, dan Al-An’am ayat 151, dan Al-Isro’ ayat 23, ini menunjukkan akan agungnya dua kewajiban ini yang harus kita tunaikan dengan semestinya, bahkan Rosululloh r mendudukkan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua sebelum kewajiban jihad fisabilillah sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud t:


أي الأعمال أحب إلى الله ؟ قال الصلاة على وقتها قلت ثم أي ؟ قال ثم بر الوالدين قلت ثم أي ؟ قال ثم الجهاد في سبيل الله


“Apa amalan yang paling dicintai di sisi Alloh , Rosululloh r menjawab : “Solat tepat pada waktunya,” Kemudian apa lagi, beliau menjawab : “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua“, kemudian apa lagi, beliau menjawab : “Kemudian jihad fisabilillah.” HR. Muslim.


            Kemudian kewajiban mentaati kedua orang tua ini selama mereka tidak memerintahkan dalam kemaksiatan sebagaimana Alloh  berfirman:



وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ


“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Al-Ankabut ayat 8



وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا




“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” Luqman ayat 15


            Dan ibu lebih berhak mendapatkan pergaulan baik dari pada ayah, sebagaimana dalam hadits Abu Huroiroh t:



جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ


” Seorang lelaki datang kepada Rosululloh t dan berkata: “Wahai Rosululloh siapakah yang berhak mendapatka baiknya pergaulanku?” Beliau menjawab : “Ibumu, Dia berkata: “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Kemudian ibumu“, Dia bertanya: “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab : “Kemudian ibumu“, Dia bertanya: “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab : “Kemudian ayahmu“. HR. Bukhori Muslim.


            Yang demikian itu karena ibu telah mengalami segala kesusahan dalam mengandungnya hingga melahirkannya sebagaimana yang telah Alloh  sebutkan dalam ayatnya.


            Dan firman Alloh : “Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” mengandung masalah fiqhiyyah. Ulama’ berdalil dengan ayat ini dan ayat 14 dari surat luqman :


وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْن


“Dan menyapihnya dalam dua tahun”


dan ayat 233 dari surat Al-Baqoroh:



 وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ


“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh.”

Bahwa paling sedikitnya waktu mengandung adalah 6 bulan. Segi pendalilannya adalah: Alloh telah menyebutkan dalam dua ayat yang terakhir bahwa menyusui selama dua tahun, dua tahun sama dengan 24 bulan, dan dalam ayat pertama Alloh  menyebutkan bahwa masa menyusui dengan masa kehamilan seluruhnya 30 bulan, telah disebutkan bahwa masa menyusui selama 24 bulan maka sisa 6 bulan itulah masa kehamilan, dan pendalilan ini dikuatkan oleh Ibnu Katsir –semoga Alloh merahmatinya-.


            Kemudian Alloh  memberi bimbingan agar bertaubat dan kembali kepada Alloh  ketika telah mencapai umur 40 tahun.


أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ (16)


16. Mereka Itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.


            Yaitu : orang-orang yang bertaubat kepada Alloh  dan kembali kepadanya, dan meminta ampun kepadanya atas kesalahan yang pernah mereka lakukan, mereka itulah yang diterima amal baik mereka dan diampuni kesalahan mereka dan mereka termasuk dari penduduk surga yang telah dijanjikan Alloh  bagi orang-orang yang bertaubat kepada-Nya.


وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (17) أُولَئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ (18)



17. dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?” Lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Alloh seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Alloh adalah benar”. lalu Dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.


18. mereka Itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.


            Setelah Alloh  menyebutkan keadaan orang yang berbakti kepada kedua orang tua, dan balasan baik yang telah dijanjikan Alloh  untuknya berupa kesenangan dan keselamatan, Alloh  menyebutkan keadaan orang yang durhaka kepada orang tua dan mengingkari hari kebangkitan yang telah ditetapkan Alloh , maka orang yang seperti ini akan mendapatkan adzab yang pedih sebagai balasan atas amal buruknya, maka menjadilah dia termasuk dari orang yang merugi.



 وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (19)



19. dan bagi masing-masing mereka tingkatan menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Alloh mencukupkan bagi mereka (balasan) amalan-amalan mereka sedang mereka tiada didzolimi.


            Yaitu : Adzab mereka bertingkat-tingkat, dan masing-masing akan mendapatkan tingkatan adzab dalam neraka sesuai dengan amalan mereka tanpa Alloh mendzolimi mereka. Berkata Abdur Rohman bin Zaid bin Aslam : “Tingkatan dalam neraka itu semakin ke bawah, sedangkan tingkatan dalam surga itu semakin ke atas.”


وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ (20)



20. dan  di hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kalian telah menghabiskan rezki kalian yang baik dalam kehidupan duniawi kalian (saja) dan kalian telah bersenang-senang dengannya; Maka pada hari ini kalian dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kalian telah fasik”.


            Yaitu : orang-orang kafir telah menghabiskan kesenangan mereka di dunia sehingga mereka tidak lagi mendapatkan kesenangan di Akhirat. Maka mereka di Akhirat akan mendapatkan adzab yang hina, dan pedih berikut penyesalan karena mereka telah menyombongkan diri dari mengikut kebenaran, menghabiskan kesenangan mereka di dunia dengan melakukan kefasikan dan kemaksiatan.


            Bahkan Umar bin Khottob tmenghindari makanan dan minuman yang ledzat karena takut akan menjadi seperti orang yang tidak mendapatkan kesenangan lagi di Akhirat.


وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (21)



21. dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad Yaitu ketika Dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan Sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan (yang telah diutus) kepada orang-orang yang ada di sekitar negeri mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kalian menyembah selain Alloh, Sesungguhnya aku khawatir kalian akan ditimpa azab hari yang besar”.


            Alloh  menghibur Rosululloh r ketika didustakan oleh kaumnya agar Rosululloh r mengingat Hud r yang juga telah didustakan oleh kaumnya ketika Hud r diutus kepada mereka yang tinggal di Ahqof (yang berada di Hadhoromaut Yaman), padahal Alloh  telah mengutus para Rosul yang memberi peringatan kepada orang-orang yang tinggal di negeri di sekitar negeri mereka. Begitupun mereka masih mendustakan Hud r dan mengatakan:


 قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَأْفِكَنَا عَنْ آلِهَتِنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (22)


22. mereka menjawab: “Apakah kamu datang kepada Kami untuk menghalangi Kami dari (menyembah) sesembahan kami? Maka datangkanlah kepada Kami azab yang telah kamu ancamkan kepada Kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.


            Mereka menantang untuk disegerakan adzab kepada mereka, karena mereka menganggap bahwa  apa yang diancamkan kepada mereka itu jauh untuk terjadi, maka Hud r pun menjawab:


 قَالَ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَأُبَلِّغُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ (23)



23. Hud r berkata: “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Alloh dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kalian adalah kaum yang bodoh”.


            Yaitu : Allohlah Yang tahu tentang kalian, jika memang kalian berhak untuk disegerakan adzab kepada kalian, adapun aku maka tugasku hanyalah menyampaikan apa yang aku diutus dengannya, akan tetapi kalian orang-orang yang tidak berfikir dan tidak memahami.


 فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (24) تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ (25)


24. Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan Itulah azab yang kalian minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,


25. yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.


            Ketika mereka melihat mendung datang ke arah mereka, mereka merasa senang dan gembira, karena mereka mengira bahwa itu adalah mendung yang akan mendatangkan hujan yang mereka tunggu-tunggu karena mereka sangat membutuhkannya, namun mereka salah menduga, bahkan itu adalah adzab yang mereka minta kepada Hud r untuk disegerakan. Maka angin itu menghancurkan negeri itu dan penduduknya tanpa tersisa dengan idzin Alloh , maka itulah hukuman Alloh  terhadap orang-orang yang mendustakan para Rosul-Nya dan menyelisihi perintah Alloh .


 وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (26)




26. dan Sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Alloh dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.


            Yaitu Alloh  memberi peringatan agar tidak seperti orang-orang yang telah diberi kedudukan oleh Alloh  di dunia berupa harta dan keturunan, dan diberi pendengaran, penglihatan dan hati, namun semua itu tidak berguna bagi mereka, karena mereka selalu ingkar dan mengolok-olok ayat-ayat Alloh  sehingga mereka berhak mendapat siksa dari Alloh .


 وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَى وَصَرَّفْنَا الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (27)



27. dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami supaya mereka kembali (bertaubat).


            Yaitu: Alloh  telah membinasakan negeri-negeri di sekitar Mekkah, seperti kaum ‘Aad yang tinggal di Ahqof yang berada di Hadhoromaut-Yaman, dan seperti kaum Tsamud yang tinggal di antara Mekkah dan Syam, dan juga kaum Saba’ yang tinggal di Ma’rib-Yaman dan juga penduduk Madyan dan kaumnya Luth r.


 فَلَوْلَا نَصَرَهُمُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ قُرْبَانًا آلِهَةً بَلْ ضَلُّوا عَنْهُمْ وَذَلِكَ إِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (28)


28. Maka mengapa sesuatu selain Alloh yang mereka jadikan sebagai sesembahan untuk mendekatkan diri (kepada Alloh) tidak dapat menolong mereka? Bahkan sesembahan-sesembahan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.


            Yaitu: sesembahan yang mereka sembah tidak mampu menolong mereka di kala mereka membutuhkan pertolongan itu, karena semua itu hanyalah kebohongan yang mereka ada-adakan.


وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29


29. dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kalian (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.


            Ayat ini mengkisahkan tentang serombongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an kemudian mereka beriman dan kemudian menyeru kaumnya untuk beriman pula, yang mana kebiasaan mereka adalah mencuri berita dari langit, namun pada kali ini mereka tidak bisa mencuri berita dari langit dan mereka dilempar dengan batu api, sehingga mereka bertanya-tanya apa sebenarnya yang menghalangi mereka untuk bisa mencuri berita, maka ketika itulah mereka berjalan mencari penyebab yang menghalangi mereka hingga mereka mendengarkan ayat Al-Qur’an dari Rosululloh r yang menyebabkan mereka beriman, sebagaimana kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari haditsnya Ibnu Abbas t:


انْطَلَقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ وَقَدْ حِيلَ بَيْنَ الشَّيَاطِينِ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ وَأُرْسِلَتْ عَلَيْهِمْ الشُّهُبُ فَرَجَعَتْ الشَّيَاطِينُ إِلَى قَوْمِهِمْ فَقَالُوا مَا لَكُمْ فَقَالُوا حِيلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ وَأُرْسِلَتْ عَلَيْنَا الشُّهُبُ قَالُوا مَا حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ إِلَّا شَيْءٌ حَدَثَ فَاضْرِبُوا مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا فَانْظُرُوا مَا هَذَا الَّذِي حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ فَانْصَرَفَ أُولَئِكَ الَّذِينَ تَوَجَّهُوا نَحْوَ تِهَامَةَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِنَخْلَةَ عَامِدِينَ إِلَى سُوقِ عُكَاظٍ وَهُوَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ صَلَاةَ الْفَجْرِ فَلَمَّا سَمِعُوا الْقُرْآنَ اسْتَمَعُوا لَهُ فَقَالُوا هَذَا وَاللَّهِ الَّذِي حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ خَبَرِ السَّمَاءِ فَهُنَالِكَ حِينَ رَجَعُوا إلَى قَوْمِهِمْ وَقَالُوا يَا قَوْمَنَا {إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا} فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ{قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ}وَإِنَّمَا أُوحِيَ إِلَيْهِ قَوْلُ الْجِنِّ


“Rosululloh r berjalan bersama sekelompok dari para sahabatnya menuju ke pasar Ukadz, dan telah dihalangi antara setan dan khobar langit dan dikirim kepada mereka batu api, maka para setan itu kembali kepada kaumnya dan kaumnya berkata “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab “Telah dihalangi antara kami dan antara khobar langit dan dikirimkan kepada kami batu api”, Kaumnya berkata “Tidaklah menghalangi antara kalian dan antara khobar langit melainkan sesuatu yang terjadi, maka pergilah kalian ke timur dan barat bumi dan lihatlah apa ini yang telah menghalangi antara kalian dan antara khobar langit”, Maka berjalanlah mereka yang menuju ke daerah Tihamah kepada Rosululloh r dan beliau berada di Nakhlah (pohon kurma) bersama sahabatnya menuju pasar Ukadz dan beliau sedang solat subuh berjama’ah bersama sahabatnya, dan ketika para setan itu mendengar Al-Qur’an mereka menyimaknya dan mereka berkata “Demi Alloh inilah dia yang menghalangi antara kalian dan antara khobar langit,” Maka di situlah ketika mereka kembali kepada kaumnya dan mereka berkata “Wahai kaum kami! Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami. Maka Alloh  menurunkan kepada Rosululloh r {قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ} , dan sesungguhnya yang diwahyukan kepada Rosululloh r adalah perkataan jin.”


            Ayat ini memberikan faedah bahwa di kalangan jin ada juga pemberi peringatan, tapi bukan berarti  dari kalangan jin ada Nabi dan Rosul, karena sesungguhnya Nabi dan Rosul itu hanyalah dari kalangan manusia, Alloh  tidak mengutus Nabi dan Rosul dari kalangan jin, berdasarkan firman Alloh  :


وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى



”Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri”


Adapun Firman Alloh :         
                                                                         


يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ



130. Hai golongan jin dan manusia, Apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri,


            Yang dimaksud dengan “golongan kalian” adalah manusia, bukan manusia dan jin.

            Dan setelah diutusnya Ibrohim r, maka semua Nabi yang diutus adalah dari keturunannya, berdasarkan firman Alloh :


وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ


27. dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al kitab pada keturunannya (Ibrohim). 

. قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30)


30. mereka berkata: “Hai kaum Kami, Sesungguhnya Kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.


            Setelah mereka mendengar Al-Qur’an dari lisan Rosululloh r dan mereka telah beriman kepadanya, mereka pun kembali kepada kaumnya dengan membawa peringatan dan mengkhabarkan bahwa Al-Qur’an ini membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan membawa kebenaran yang membimbing kepada jalan yang lurus. Dan dalam ayat ini Alloh menjelaskan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan setelah nabi Musa r yaitu setelah kitab taurat, padahal sebelum Al-Qur’an adalah kitab Injil  dan Taurat  diturunkan sebelum Injil, yang demikian itu karena kitab Injil pada hakikatnya adalah penyempurna Taurat, maka yang menjadi pondasi utama adalah Taurat, maka layak dikatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan setelah Taurat.


يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31)



31. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Alloh dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosa kalian dan melepaskan kalian dari azab yang pedih. 


            Ayat ini merupakan dalil bahwa Rosululloh r diutus kepada jin dan manusia.


 وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (32


32. dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Alloh maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Alloh di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Alloh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.


            Maka mereka telah menyeru kaumnya untuk beriman dengan memberi harapan dan ancaman, sehingga banyak dari kaumnya yang datang kepada Rosululloh r dan beriman dengannya


أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى بَلَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (33)


33. dan Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Alloh yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.


            Yaitu : Tidakkah mereka orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan itu memperhatikan bahwa Alloh  mampu menciptakan langit dan bumi, maka tentu Alloh  lebih mampu untuk membangkitkan manusia, lalu kenapa mereka mengingkarinya?! Padahal Alloh maha kuasa atas segala sesuatu.


وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَلَيْسَ هَذَا بِالْحَقِّ قَالُوا بَلَى وَرَبِّنَا قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (34)


34. dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (Dikatakan kepada mereka): “Bukankah (azab) ini benar?” mereka menjawab: “Ya benar, demi Tuhan kami”. Alloh berfirman “Maka rasakanlah azab ini disebabkan kalian selalu ingkar”.


Maka mereka tidak bisa lagi untuk mengingkari melainkan harus mengaku.


فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ (35)



35. Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.


            Dalam ayat ini Alloh Y memerintahkan Rosululloh r untuk bersabar sebagaimana Ulul Azmi dari para Rosul itu bersabar, yang dimaksud dengan Ulul Azmi adalah yang memiliki keteguhan dalam ujian([2]). Dan orang-orang kafir ketika telah menyaksikan adzab yang mengerikan, mereka merasa bahwa selama ini mereka tinggal di dunia hanyalah sesaat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar