Selasa, 08 April 2014

SIFAT-SIFAT DZAT DAN SIFAT-SIFAT AF’AL


Sifat-sifat Dzat yaitu sifat-sifat (ma’nawiyah). Yaitu sifat hidup, mendengar, melihat, berkehendak, berdiri sendiri dan sebagainya.
Sedangkan sifat-sifat (af’al) yaitu sifat-sifat yang berhubungan dengan segala yang diperbuat Allah, seperti menciptakan alam dan seluruh isinya ini, memberi rizqi kepada semua makhluq-Nya, dan sebagainya.
Dzat. Dan kedudukan sifat-sifat itu hanya sebagai tambahan dari sifat Dzat. Namun dikalangan ulama sendiri masih terdapat perselisihan paham tentang kedudukan Dzat. Adapun yang menjadi pangkal perselisihan adalah :
- Apakah Allah itu melihat dengan (Dzat), mendengar dengan (Dzat), berfirman dengan (Dzat) dan seterusnya?
- Atau apakah Allah itu melihat dengan penglihatan, mendengar dengan pendengaran, hidup dengan kehidupan dan seterusnya?
Lalu bagaimana pendapat kita sendiri mengenai kedua tanda di atas? Sebagaimana orang mukmin, kita hendaknya menjauhkan diri dengan memikirkan persolan-persoalan semacam itu. Karena bagaimana pun dan dengan apapun juga pemikiran kita yang sangat terbatas ini tak akan mampu memecahkan rahasia Allah.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam al-qur’an surat Thooha ayat 110, yang artinya :
Allah Maha Mengetahui apa yang ada dihadapan dan dibelakang mereka. Mereka (manusia-manusia) itu tidak dapat meliputi (mengetahui) Tuhan dengan pengetahuannya”.

Juga dalam sebuah Hadits Rasulullah saw. Bersabda yang artinya :
Berfikirlah mengenai makhluq allah dan jangan berfikir mengenai Allah (Dzat-Nya), sebab semua tentu tak dapat mencapai kadar pikirannya”.

Dengan demikian, yang diperintahkan kepada kita hanyalah sebatas meyakini aka maujudnya (adanya) Allah yang memiliki nama-nama yang baik (Asmaul Husna), mempunyai sifat-sifat yang luhur dan yang telah mencapai kesempurnaan dalam hal apa saja secara mutlak.

133. SEGALA SESUATU BISA MAUJUD KARENA ADANYA ALLAH

Azhara kullu syai-in liannahulbaathinu wathawaa wujuuda kulli syai-in liannahu zhaahirun.

Artinya : Allah mendhahirkan segala sesuatu, karena sesungguhnya Dia (Allah) itu bersifat bathin. Dan Dia (Allah) yang melipat adanya segala sesuatu sebab Allah itulah yang dhahir (jelas) pada tiap-tiap sesuatu”.

Diantara nama-nama Allah yang baik, terdapat nama Adh-Dhohir, Al-Bathin. Adh-Dhohir artinya : Maha Nyata, yang dengan sifat-sifat-Nya ini Allah menyatakan atau menampakkan kewujudan-Nya dengan tanda-tanda ciptaan-Nya. Sedang Al-Bathin artinya : Maha Tersembunyi, yang dengan sifat-sifat-Nya ini menyebabkan tak seorangpun atau sesuatupun yang dapat mengenal Dzat-Nya.
Dengan sifat-sifat-Nya, Allah menjadikan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya menjadi terang dan nyata, sehingga tidak ada sesuatu yang samara di sisi-Nya. Dan dengan sifat Dhohir-Nya, Allah menjadikan sesuatu yang dikehendaki-Nya menjadi samara, sedang tidak ada sesuatu yang nyata di sisi-Nya.
Jadi kesimpulan, bahwa Allah meujud di segala sesuatu yang wujud. Dan tidak ada yang meujud selain Dia, kecuali dengan jalan yang mengikuti jalan-Nya (Sunnah-Nya).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar